Pages

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang & persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kamis, 16 Agustus 2012

Perilaku Buruk Pemeluk Buddha

http://img.okeinfo.net/content/2012/08/01/411/671496/d3xKkY1Pby.jpgOleh William McGowan
Pada September tahun lalu di Sri Lanka sekelompok massa Budha Sinhala yang dipimpin oleh sekitar 100 biksu Buddha menghancurkan sebuah tempat suci Muslim di kota kuno Anuradhapura. Pada saat kerumunan orang melambaikan bendera umat Buddha yang berwarna-warni, emas dan merah, seorang biksu membakar sebuah bendera ijau Islam berwarna hijau. Para biarawan mengklaim bahwa kuil itu berada pada lahan yang telah diberikan kepada orang Sinhala 2.000 tahun yang lalu - sebuah kiasan atas kepemilikan mereka atas seluruh negara pulau itu, sebagaimana tertulis dalam teks-teks keagamaan kuno.
Serangan Anuradhapura bukanlah insiden terakhir umat Buddha yang berperilaku buruk di Sri Lanka. Pada bulan April, para biarawan memimpin hampir sekitar 2.000 umat Buddha Sinhala dengan berpawai menuju sebuah masjid di Dambulla, sebuah kota suci di mana raja Sinhala diyakini telah berlindung dari para penjajah yang datang dari selatan India dalam suatu jaringan luas gua yang terjadi hampir dua ribu tahun lalu. Yang mereka tuntut - tetapi sebagian besar tuntutan itu adalah simbolis – adalah bahwa serangan itu menandai “hari bersejarah,” kata seorang biksu yang memimpin serangan kepada khalayak ramai, “suatu kemenangan bagi orang-orang yang mencintai ras [Sinhala], memiliki darah Sinhala, dan beragama Buddha.”
Tindakan Chauvinisme tersebut bertentangan dengan anggapan sebelumnya di Barat atas agama Buddha - sebuah agama yang menekankan antikekerasan dan ketidak-terikatan - tetapi hal ini sesuai dengan sejarah agama di Sri Lanka. Buddhisme militan berakar pada sebuah cerita kuno yang disebut sebagai Mahavamsa (Babad Agung), yang disusun oleh para rahib di abad keenam. Menurut Mahavamsa, Sang Buddha meramalkan runtuhnya agama Buddha di India tetapi melihat masa depan yang cerah di Sri Lanka. “Di (Sri) Lanka lah, wahai tuhan para dewa, agama saya tumbuh dan berkembang,” katanya. Orang Sinhala mengambil pemahaman ini sebagai tanda bahwa mereka adalah orang-orang Buddha pilihan, yang diperintahkan untuk “melestarikan dan melindungi” agama Buddha dalam bentuk yang paling murni. Menurut mitos itu, seorang pangeran muda Sinhala di abad kedua SM mempersenjatai dirinya dengan tombak yang ujungnya adalah sebuah peninggalan Sang Buddha dan memimpin 500 orang biksu untuk mengalahkan penjajah Tamil. Selain membela kerajaannya dari bahaya kehancuran, kemenangan sang pangeran itu melegitimasi kekerasan agama sebagai alat untuk kelangsungan hidup nasional.
Buddhisme militan adalah kekuatan pendorong di belakang perang selama 25 tahun antara mayoritas Sinhala (74 persen dari jumlah penduduk) dengan minoritas Tamil (18 persen dari jumlah penduduk), yang berjuang bagi sebuah negara merdeka bagian utara dan timur negara pulau itu. (Kaum Muslim, yang berjumlah enam persen penduduk Sri Lanka, seringkali terjebak berada di tengah.) Selama perang berlangsung, para biksu berulang kali melemahkan segala upaya untuk menghasilkan kesepakatan damai.
Sangha, yang seringkali dirujuk oleh para biksu dalam Buddhisme Theravada, secara historis memegang kekuasaan politik dari balik layar, dengan mewujudkan suatu bentuk luas nasionalisme religius. Namun dalam tahun-tahun terakhir peperangan, hal itu menjadi lebih dipolitisir secara terang-terangan. Pada tahun 2004, partai garis keras National Heritage (yang dikenal sebagai partai JHU) memilih tujuh orang anggotanya untuk Parlemen; semuanya adalah biarawan, dan partai itu berjalan pada platform yang menyerukan untuk kembali kepada moralitas Buddhis dalam kehidupan publik. Segera setelah mereka menduduki posisinya, JHU melancarkan perkelahian di dalam lantai gedung parlemen Srilangka.
http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/edit-biksu-1.jpg&h=235&w=355&zc=1Partai JHU juga bekerja untuk menjegal penyelesaian perdamaian yang ditengahi oleh Norwegia pada bulan Maret 2002 yang menyerukan otonomi Tamil yang terbatas. Para biksu menyatakan bahwa Sri Lanka akan selalu merupakan kerajaan Sinhala, otonomi yang melanggar ide negara kesatuan yang nyaris mistis, dan bahwa tidak ada pilihan lain selain pilihan militer. Perundingan perdamaian hanya akan membuat Macan Tamil kuat, kata salah satu pemuka agama, Athuraliye Rathana yang dijuluki Biksu Perang, kepada Media Sri Lanka. “Jika mereka menyerahkan senjata, baru kita bisa bicara,” katanya. “Jika tidak, maka kita akan mengendalikan mereka dengan cara apapun yang diperlukan. Kita harus berperang sekarang dan bicara kemudian.” Pada musim semi tahun 2006, sekelompok biksu menyerang sebuah kelompok ekumenis yang berbaris dengan damai dan memimpin aksi duduk yang panjang menentang kesepakatan gencatan senjata, yang menyebabkan satu putaran peperangan.
Ketika pertumpahan darah semakin meningkat, sebagian besar pendeta Budha memberkati sebuah serangan terakhir kepada separatis Macan Tamil. Pada bulan Mei tahun 2009, militer Sri Lanka muncul dari pertempuran itu dengan penuh kemenangan. Namun, serangan brutal terhadap Macan Tamil telah menjadikan pemerintah Presiden Mahinda Rajapaksa mendapat sasaran kecaman internasional luas. Perkiraan atas kematian warga sipil berkisar hingga 40.000 orang, dan saluran televisi Channel Four Inggris telah mendokumentasikan eksekusi terhadap para tahanan Macan Tamil dalam program “Sri Lanka Killing Fields.” Meskipun organisasi HAM, termasuk Amnesti Internasional dan Dewan HAM PBB, telah menyerukan penyelidikan atas pelanggaran dan kemungkinan kejahatan kemanusiaan dari perang itu, pemerintah Rajapakse menolaknya. Para biarawan telah mendukung sikap keras kepala pemerintah ini, dengan mengatakan bahwa tuntutan tersebut menyerang rujukan orang Sinhala terhadap Srilangka sebagai “ibu pertiwi” orang Budha.
Sejak perang berakhir, para pendeta Buddha berada di garis depan untuk mempromosikan kemenangan itu dengan tindakan menghukum. Mayoritas Sinhala secara luas memandang kemenangannya atas Tamil sebagai ratifikasi kekuasaannya yang ditakdirkan kitab suci, dimana kelompok-kelompok lain menempati posisi bawahan. Dengan demikian, langkah-langkah menuju rekonsiliasi menjadi goyah. Upaya pemerintah untuk menempatkan kembali hampir 300.000 orang Tamil yang terlantar akibat pertempuran itu, sebagian besar belum selesai hingga sekarang, berjalan dengan lambat dan kacau, dan menyisakan kebencian. Militer telah membentuk distrik-distrik militer yang besar di wilayah Tamil, dengan merawat warga sipil yang terluka dengan tangan besi. Menurut International Crisis Group, “Ketika mendapat protes publik, militer malah menunjukkan dirinya menyerang secara fisik para demonstran dan pihak militer kemudian dituduh terlibat dalam tindakan penghilangan secara paksa dan hukuman ekstrajudisial lainnya.” Meskipun rehabilitasi para mantan kader Macan Tamil – yakni sebanyak 11.000 orang - sebagian besar berjalan sesuai jadwal, ada tuduhan penganiayaan terhadap para tahanan saat mereka di tahan dan pelecehan terhadap mereka setelah dibebaskan.
Menteri Pertahanan Gotabaya Rajapaksa, yang merupakan saudara Presiden, baru-baru ini mengatakan bahwa bagian utara dan timur negara itu bukanlah wilayah eksklusif Tamil, dengan mengisyaratkan bahwa pemerintah akan melanjutkan program kolonisasi negeri Sinhala, yang merupakan titik utama pergesekan menjelang terjadinya perang. Sementara itu, Macan Tamil mengeluh bahwa militer telah memungkinkan didirikannya candi-candi Budha di mana candi-candi Hindu dihancurkan dalam pertempuran itu, termasuk penghancuran kuil-kuil Hindu tradisional dekat wilayah pertempuran. Ada juga tuduhan bahwa para biksu telah mengambil keuntungan dari kebingungan pasca perang untuk merebut tanah Tamil, terutama di daerah yang berdekatan dengan pangkalan militer yang baru. Tahun lalu, ICG memperingatkan sebuah “resep atas konflik yang baru” dan mengatakan bahwa rekonsiliasi “tampaknya lebih sulit dari sebelumnya.”
Tanda lain dari militansi Buddhisme yang kronis adalah penolakan pemerintah dalam menghadapi pelanggaran HAM yang dilakukan dalam perang yang terjadi terakhir. Presiden Rajapaksa, yang pergi ke Kandy, yang merupakan ibukota budaya, segera setelah kemenangan tahun 2009 berlutut di hadapan para pemuka tertinggi agama Budha, dan telah menolak Resolusi Dewan HAM PBB yang disahkan pada Maret, yang menyerukan penyelidikan atas pelanggaran kemanusiaan dan kemungkinan kejahatan perang. Hanya baru-baru ini saja pemerintah Rajapakse mengakui bahwa memang ada korban sipil. Sebenarnya, pada saat UNHRC memberikan suara pada resolusi bulan Maret, ratusan biksu Budha memimpin doa dan berjaga di Kolombo untuk menentangnya. Ratusan biksu lainnya memimpin protes ketika resolusi disahkan. The Los Angeles Times mengutip seorang demonstran yang mengatakan, “kekuatan jahat baik lokal maupun internasional telah bergabung untuk mencabut perdamaian di Sri Lanka dan menjadikan pulau yang diberkati ini kembali ke era kegelapan.”
Sebagian orang melihat hal ini sebagai sebuah ironi dimana para biksu menyelaraskan diri begitu erat dengan pemerintah yang menolak pertanggungjawaban atas pelanggaran kemanusiaan. Namun, ironi yang lebih besar adalah bahwa dalam melindungi dan melestarikan bentuk-bentuk khusus Buddhisme, orang Sinhala tampaknya telah merusaknya. Keasyikan orang Sangha dengan politik telah menyebabkan terlantarnya fokus pada aktivitas rohani. Sebagian besar biarawan di Sri Lanka tidak lagi bermeditasi, yang seharusnya menjadi inti Buddhisme. Sebagian umat Buddha di wilayah Barat telah pergi melakukan perjalanan misionaris ke Sri Lanka untuk menghidupkan kembali praktek meditasi. Namun, keberhasilan cepat berlalu.
Ada juga gangguan dalam disiplin monastik. Februari lalu, seorang biarawan dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan – yang merupakan biarawan pertama yang dijatuhi hukuman seperti itu sejak Talduwe Somarama membunuh Perdana Menteri SWRD Bandaranaike pada tahun 1959 setelah dia mengingkari implementasi penuh agenda nasionalis Buddha. Selama dekade terakhir, telah terjadi hampir 100 kasus dimana para biksu Buddha dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, dan banyak contoh dari para biksu, terutama biksu muda, yang disebutkan mabuk-mabukan di depan umum dan melakukan hooliganisme. Ide fundamentalis bahwa Buddhisme adalah khas milik nasional telah mendorong rasa superioritas moral, yang membuat sulit bagi banyak orang Sinhala unutk bisa menerima bagaimana rusaknya Buddhisme. Sebagaimana salah satu tokoh Buddhis menjelaskan (secara diam-diam) kepada saya lebih dari dua puluh tahun lalu, “Saat ini Buddhisme menjadi keropos di Sri Lanka. Kami hanya mengikuti apa yang terjadi.” Pada hari ini, gerakan-gerakan ini tumbuh semakin mengganggu.
Politik identitas beracun Sri Lanka tidaklah sama sekali unik, terutama pada bangsa lain, Buddha Theravada. Nasionalisme Budha di Myanmar, misalnya, memberikan titik penyatuan yang sama melawan kolonialisme Inggris. Tetapi penyatuan atas “tanah, ras, dan agama” di antara mayoritas penduduk di sana, bersama dengan pandangan bahwa mayoritas itu merupakan pelayan murni Buddhisme dengan bentuknya yang tersendiri, telah menjadi sumber ketidakharmonisan politik dan budaya di negara dengan banyak kelompok minoritas non-Buddha, dan yang terakhir adalah dengan Muslim Rohingya. Meskipun Buddhisme mungkin menentang kekerasan pada tingkat doktrin, Budhisme tidak bebas dari mitos kaum nasionalis yang melihat tempat untuk hal itu. (RZ; Senin, 6 Agustus, 2012 Sumber: www.foreignaffairs.com/www.globalmuslim.web.id)

Era Demokrasi Berakhir Saatnya Era Khilafah



Klaim demokrasi sebagai sistem terbaik dunia kembali disoal. The Guardian merujuk(6/07/2012) laporan Democratic Audid memperingatkan penurunan jangka panjang demokrasi di Inggris. Dalam artikelBritish democracy in terminal decline, warns report, disebutkan ada indikasi yang menunjukkan hal itu. Pertama: menguatnya pengaruh korporasi (perusahaan bisnis). Kedua: politisi yang semakin tidak mewakili konstituennya. Ketiga: semakin menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu, bahkan untuk mendiskusikan persoalan-persoalan kekinian, sebagai bentuk kekecewaan terhadap demokrasi.
Stuart Wilks-Heeg, penulis utama laporan itu, memperingatkan bahwa Inggris harus segera bertanya pada diri mereka sendiri: Apakah demokrasi benar-benar representatif lagi? Pasalnya, hanya 1% daripemilih merasa memiliki partai, hanya 6 dari 10 pemilih yang berhak pergi ke kotak suara dalam Pemilu 2010, dan hampirhanya satu dari tiga pemilih berpartisipasi dalam pemilihan Eropa dan lokal.
Nasib demokrasi seperti itu sesungguhnya bukan hanya di Inggris, tetapi hampir diseluruh dunia; terjadi juga di jantung-jantung demokrasi seperti Prancis dan Amerika Serikat. Dominannya kepentingan korporasi menjadi penyakit akut dalam sistem demokrasi yang melahirkan korupsi. Berbagai skandal korupsi, money politic dan kolusi yang terjadi sebagian besar memiliki hubungan langsung dengan kepentingan korporasi (perusahaan) dan dunia politik. Politik dan uang menjadi semacam lingkaran setan. Money to politics, Politic to money. Uang untuk meraih kekuasaan politik, kekuasaan politik untuk menghasilkan uang.
Skandal penjualan kursi Obama (2008) yang menghebohkan merupakan salah satu kasus. Gubernur Illinois, AS, Rod Blagojevich, akhirnya dipecat setelah terbukti menjual kursi senat Illinois yang kosong setelah ditinggalkan Barack Obama setelah menjadi Presiden AS dengan imbalan uang.
Skandal politik Inggris terbaru terjadi ketika bendahara partai konservatif Inggris yang berkuasa tertangkap kamera sedang menawarkan akses kepada Perdana Menteri dan Kanselir hingga lebih dari £ 250.000 atas nama sumbangan. Para pendonor telah diundang makan malam secara pribadi dengan David Cameron dan keluarganya. Cameron pun dipaksa untuk menyebutkan secara rinci nama para pendonor jutawan yang ia ajak makan malam bersama itu. Kasus menghebohkan lain adalah pengunduran diri mantan Menteri Pertahanan Liam Fox yang terlibat dalam skandal “Cash for Honours” yang mencoreng Partai Buruh pada saat-saat terakhir pemerintahan mereka.
Di negara kampiun demokrasi yang lain,Prancis, polisi menggeledah kantor dan rumah mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, Selasa (3/7), untuk penyelidikan terkait tuduhan korupsi dana kampanye pemilihan presiden tahun 2007. Sarkozy diduga menerima sumbangan ilegal untuk kampanye pemilihan presiden 2007 dari wanita terkaya Prancis, Liliane Bettencourt, pemilik kerajaan bisnis produk kecantikan L’Oreal.
Hal yang sama terjadi di Indonesia, negara pengekor demokrasi. Seakan tak mau kalah dengan tuan demokrasinya, praktik korupsidan kolusi marak terjadi di Indonesia. Sebagian besar melibatkan mereka yang menjadi penjaga pilar-pilar demokrasi baik di eksekutif, legislatif hingga yudikatif. Berbagai kasus korupsi dan suap di Indonesia seperti BLBI, Bank Century, suap pembuatan RUU BI, RUU Wakaf, proyek Hambalang, hingga pembuatan al-Quran Departemen Agama melibatkan penjaga-penjaga setia sistem demokrasi.
Kuatnya pengaruh korporasi dalam sistem demokrasi ini membuat kebijakan negara demokrasi lebih cenderung memihak kepada pemilik modal, korporasi, baik lokal maupun internasional.Lahirlah berbagai UU dan kebijakan yang menguntungkan pemilik modal dan merugikan rakyat banyak di sisi yang lain. Alih-alih memikirkan kesejahteraan masyarakat, para politisi sibuk memikirkan kesejahteraan mereka sendiridan demi mempertahankan kekuasaan.
Seperti yang ditulis oleh Guardian, tidak mengherankan kalau masyarakat partai politik, termasuk anggota DPR, tidaklah sama sekali mencerminkan keinginan rakyat. Akibatnya, banyak rakyat yang semakin apatis untuk berpartisipasi dalam Pemilu demokratis.Dalam kasus Pilkada DKI 2012, warga yang tidak menggunakan hak meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Di beberapa tempat hal yang sama juga terjadi, angka golput sangat tinggi, bahkan menjadi ‘pemenang’.
Walhasil, inilah saatnya kaum Muslim mencampakkan sistem demokrasi; tidak cukup sekadar tidak berpartisipasi dalam Pemilu yang curang, korup dan menghasilkan rezim korup. Diam saja tentu tidak akan membawa perubahan. Kita harus melakukan aksi nyata dengan memperjuangkan tegaknya Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan kita.
Era demokrasi akan segera berakhir dalam waktu dekat ini. Yang gigih mempertahankannya akan gigit jari. Sistem ini telah gagal mewakili keingingan masyarakat yang luhur. Demokrasi sukses mensejahterakan segelintir orang, namun gagal mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Demokrasi di berbagai negara juga menjadi sumber konflik yang berdarah-darah. Atas nama demokrasi negara-negara Barat juga membunuh kaum Muslim di Irak dan Afganistan. Belum lagi standar ganda yang nyata dalam demokrasi. Demokrasi hanya digunakanuntuk kepentingan Barat. Barat justru kerap melanggar prinsip mereka sendiri kalau berkaitan dengan umat Islam.
Saat yang tepat bagi seluruh dunia Muslim sekarang adalah Khilafah. Dari Tunisia hingga Indonesia, dari Suriah hingga Bangladesh, rakyat menuntut Khilafah. Sekaranglah saat yang tepat bagi para perwira yang tulus dalam angkatan bersenjata untuk terlibat dalam pekerjaan yang serius ini dengan memberikan nushrah (dukungan)bagi Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah sehingga permintaan umat secara praktis dapat diwujudkan.
Bulan ramadhan yang penuh barakah ini merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kesunguh-sungguhan kita untuk memperjuangkan sistem Khilafah. Rasulullah saw., para Sahabat dan generasi yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan Islam telah mencontohkan mengisi bulan Ramadhan dengan perjuangan. PerangBadar, persiapan Perang Khandaq, Penaklukan Makkah, terjadi pada bulan Ramadhan.
Demikian juga kemenangan Thariq bin Ziyad di Andalusia, kemenangan besar dalam Perang Salib di bawah Panglima Shalahuddin al-Ayyubi, kemenangan di Ain Jalut saat Saifudin Qutuz menghancurkan tentara Tartar; semua terjadi di bulan Ramadhan. Sekarang, giliran kita mempersembahkan hal yang terbaik untuk umat ini, yaitu tegaknya Khilafah; memenuhi kewajiban syar’i serta menyongsongkan janji Allah dan Rasul-Nya. Allahu Akbar![Farid Wadjdi]

Khutbah 'Idul Fithri 1433H

Assalâmu‘alaikum Wr. Wb.

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnsXUgT1FA-VqT_80Srw2Ht14AH4ssqcWRiqXHJxdLekywK3G69TE0zqE1HmrP4OxUm0rkWJFXjwCqtqN-8jcav4BFyCGgDCWrTTHq9hkbGzekPteQgolrRg4VtS9wQqRmp1GIfA7dCc23/s1600/idul-fitri-azaxs.jpgاَلْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَاللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَحْصُلُ الدَّرَجَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تَبْدُلُ الْخَطِيْئَاتُ،
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ تَمَامِ الشَّهْرِ وَكَمَالِ الْفَضْلِ، بِالْأَمْسِ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِسْتَقْبَلْنَا رَمَضَانَ بِشَوْقٍ، وَالْيَوْمَ يَفْرَحُ الْمُؤمِنُوْنَ بِعِيْدِ الْفِطْرِ الْمُبَارَكِ، فَالْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَتَمَّ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله الْوَاحِدُ الْقَهًّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ، صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلهِ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَار.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ، وَ عَلىَ آلهِ وَ أَصْحَابِهِ، وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ، وَالْتَزَمَ بِشَرِيْعَتِهِ، وَ بَذَلَ جُهْدَهُ لِإِقَامَةِ الْخِلاَفَةِ عَلىَ مِنْهَاجِهِ، وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِه
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمنُوْا، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قال تعالى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
اَمَّا بَعْدُ
Allâhu akbar 3x wa lillâhilhamd
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Zat yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati keberkahan bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Gema takbîr, tahlîl, dan tahmîd yang kita kumandangkan saat ini merupakan wujud kesadaran kita, bahwa kita adalah kecil dan hanya Dia yang Maha Agung; merupakan bukti ketundukan kita kepada-Nya, bahwa tidak ada ilâh yang wajib disembah kecuali Dia; dan merupakan pernyataan syukur kita, bahwa segenap kenikmatan yang kita rasakan hanyalah berasal dari-Nya. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, lâ ilâha illallâhu Allâhu Akbar, Allâhu Akbar wa lillâhilhamdu.
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa(TQS. al-Baqarah: 183).
Ada pelajaran yang sangat halus dan penting dalam ayat tersebut. Ayat tersebut menegaskan bahwa yang diseru untuk melaksanakan shaum adalah orang-orang beriman. Artinya, iman merupakan landasan dalam pelaksanaan shaum tersebut. Hal senada disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW:
مَنْ صاَمَ رَمَضاَنَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa shaum bulan Ramadhan dengan iman dan semata mengharap ridla Allah maka ia diampuni dosanya yang telah lewat(HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda Nabi ini menegaskan bahwa keimanan harus dijadikan landasan dalam menjalankan shaum Ramadhan. Dengan demikian, Ramadhan sejatinya merupakan momentum untuk mengokohkan keimanan kita semua. Sehingga, seusai Ramadhan, kita sebagai umat Islam akan memiliki keimanan yang tangguh, dan merasakan betapa manisnya keimanan tersebut.
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Sayang, sebagian kalangan umat terbaik (khairu ummah) ini belum merasakan kokoh dan manisnya iman. Buktinya, masih ada di antara umat Islam yang menolak penerapan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan. Masih ada kaum Muslimin yang menjadikan hukum dan tata nilai buatan manusia seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, sekularisme, dan kapitalisme sebagai landasan kehidupan. Padahal, bukankah keimanan kita menyatakan bahwa hanya Allah SWT yang berhak menentukan hukum, sebagaimana firman-Nya:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. al-Maidah: 50).
Sungguh mengherankan, bila masih ada di antara umat Islam ini yang masih mencari-cari dalih untuk menolak hukum al-Quran. Di manakah letak pengakuan mereka bahwa mereka beriman kepada al-Quran? Mengapa mereka rela menerapkan syariat Islam dalam shalat, shaum, haji, zakat, dan nikah; namun belum rela menerapkan Islam dalam masalah hudud, jinayat, perekonomian, pemerintahan, dsb? Padahal, Allah SWT berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap sebagian. Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal tersebut di antara kalian kecuali kenestapaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang amat pedih. Dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian lakukan(TQS. al-Baqarah: 85).
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Saat ini pemerintah Amerika Serikat berencana membangun kedutaan besarnya di Jakarta menjadi 10 lantai, dengan luas 3,6 hektar. Gedung sebesar itu akan dijadikan sebagai markas intelijen dan militer sebagaimana di Irak dan Pakistan. Namun, pemerintah justru mengizinkan. Dan kebanyakan kaum Muslim diam. Bukankah ini merupakan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslimin? Seharusnya orang-orang beriman tidak boleh melakukan hal itu, sebagaimana firman-Nya:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Dan Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum mukminin(TQS. an-Nisa: 141).
Menteri Kesehatan membuat program kondomisasi, termasuk di kalangan remaja. Tindakan ini merupakan legalisasi pelacuran dan seks bebas di kalangan remaja. Orang-orang beriman tentu akan menolak kondomisasi ini, sebab mereka mengimani firman Allah SWT yang mengharamkan zina:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kalian mendekati zina sesungguhnya zina itu berbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan(TQS. al-Isra`:32).
Hingga hari ini, kaum musyrik di Myanmar membantai kaum Muslim Rohingya. Mereka diusir. Mereka terpaksa hidup dalam pengungsian dengan kondisi yang sangat mengerikan. Namun, para penguasa Muslim tak berbuat apa-apa. Padahal, orang-orang beriman seharusnya berupaya untuk membantu mereka, sebab mereka beriman pada firman Allah SWT:
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan(TQS. al-Anfâl: 72).
Demikianlah, kita harus terus mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan ini, kita akan memiliki kerinduan kepada ampunan dan surga Allah SWT, takut akan adzab-Nya yang tiada tara pedihnya.
Allâhu Akbar 3x wa lillâhilhamdu
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keimanan harus dibarengi dengan keterikatan terhadap hukum syariat Islam. Banyak nash-nash yang mengaitkan iman dengan keterikatan dengan hukum Islam, dan menghubungkan keimanan dengan amal shalih. Di antaranya adalah firman Allah SWT:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya(TQS. an-Nisâ: 65).
Ayat itu menegaskan, keimanan harus menyatu dengan penerapan dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Maka, kekokohan iman sejatinya makin mendorong kita semua untuk terikat dengan syariat Islam dan terus memperjuangkannya. Dan, syariat Islam tidak akan sempurna dilaksanakan secara kaffah tanpa adanya khilafah. Karena itu, keimanan kita semestinya makin mendorong kita untuk terus berjuang menegakkan syariah dan khilafah.
Boleh jadi, ada orang yang menganggap bahwa khilafah itu utopis. Namun, bagi orang yang beriman tegaknya syariah dan khilafah itu merupakan wujud keyakinan dan keimanan yang nyata. Khilafah akan mengokohkan agama ini. Khilafah akan menegakkan tauhid. Bagaimana mungkin khilafah disebut khayalan, padahal khilafah itu merupakan janji Allah SWT, Zat yang tidak pernah mengingkari janji.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS. an-Nûr: 55).
Ayat ini menegaskan janji Allah SWT akan kembalinya khilafah. Imam Ibnu Katsir menegaskan dalam tafsirnya makna ayat itu, yakni “Ini merupakan janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan menjadikan umatnya para khalifah di bumi” (Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, hal. 357).
Allâhu Akbar 3x wa lillâhilhamdu
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Setelah Ramadhan berlalu, saatnya kita makin mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan, segala keragu-raguan tentang syariat Islam dan khilafah, yang dilontarkan oleh setan, baik dari kalangan jin dan manusia, insya Allah tak akan mampu menggoyahkan keimanan kita. Dengan iman pula, kita akan terus berjuang menegakkan syariah dan khilafah. Kita tidak akan takut kepada siapa pun selain Allah SWT. Kita tidak takut kehilangan rezeki, karena kita yakin rezeki itu berasal dari Allah Zat Maha Kaya. Kita tidak akan takut terhadap ancaman siapa pun, sebab tidak ada siksaan yang pedih selain siksa neraka di akhirat kelak. Keimanan yang kokoh pun akan menjadikan kita rindu akan surga yang penuh kenikmatan. Kita pun tidak akan terbuai dengan kesenangan dunia, sebab dunia ini hanyalah perhiasan yang menipu. Dengan keimanan, kita akan menjadi orang-orang yang optimis dalam perjuangan. Sebab, kemenangan berupa tegaknya syariah dan khilafah itu merupakan janji Allah SWT, hanya tinggal menunggu waktu saja. Tugas kita adalah memperjuangkannya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengokohkan iman dan berjuang menegakkan syariah dan khilafah.
Allâhu Akbar 3x wa lillâhilhamdu
Kaum Muslimin rahimakumullâh,
Akhirnya, marilah kita menundukkan kepala, memohon kepada Allah SWT. Semoga Allah mengabulkan doa kita.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ اَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَ نُوْرَ صُدُوْرِنَا، و جَلاَءَ اَحْزَانِنَا، وَذِهَابَ هُمُوْمِنَا و غُمُوْمِنَا، وقَائِدَنَا وَسَائِقَنَا اِلَى رِضْوَانِكَ، اِلَى رِضْوَانِكَ وَجَنَّاتِكَ جَنَّاتٍ نَعِيْمٍ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ شَفِيْعَنَا، وَ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا،
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا من النَّارَ وَتُدْخِلُهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِي ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفِظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، واجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ ِلإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَسُبْحَانَ رَبُّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Kamis, 17 Mei 2012

Harry Moekti:Goyang Erotis Trio Macan Tak Kalah Ekstrim dari Lady Gaga


JAKARTA– Mantan Rocker yang kini menjadi pendakwah Ustadz Harry Moekti mengakui, dulu di era 90-an ketika masih manggung dan ngerock di Ancol, ia merasakan kegelisan yang amat sangat, sampai membuatnya stress. 
“Gimana nggak stress, shalat dilakukan maksiat jalan terus. Namanya rocker, kalau sudah di atas panggung seperti kesetanan,” kata Harry Moekti saat menjadi pembicara dalam Halaqah Islam dan Peradaban bertajuk “Liberalisasi Agama & Budaya: Strategi Penjajah Hancurkan Islam” di Wisma Antara, Rabu (16/5) siang.
Benarkah budaya akan selalu berbenturan dengan Islam? Menurut Harry Moekti, budaya bisa berbenturan dengan Islam, manakala institusi atau aturan negaranya tidak Islami dan tidak menjalankan syariat. Akibatnya, malah budaya itu yang menjadi aturan. Justru Islam itu diturunkan untuk meluruskan budaya. Adapun budaya seperti silaturahim, gotong royong, adalah  budaya yang baik, dan tidak bertentangan dengan Islam.
“Harus diakui, manusia itu butuh hiburan.  Namun, hiburan atau pertunjukan yang menghantarkan keharaman, maka hiburan itu menjadi mudharat, apalagi hiburan yang liriknya penuh maksiat, seperti lagu saya dulu. Apalagi lirik lagunya Lady Gaga,” ujarnya.
Dalam pandangan Harry, musik itu tidak haram, tapi kalau sudah menjadi wasilah keharaman, musik itu menjadi haram. Seharusnya musik menghatarkan seseorang pada keimanan kepada Allah, menciptakan kelembutan. Musik seperti ini sifatnya  mubah. Tapi tetap saja, jangan dicamburbaurkan antara dakwah dan musik.
“Dakwah itu wajib, sedangkan musik itu mubah. Jangan dicampur aduk. Sangat disesalkan, kebanyakan saat latihan musik, marawis misalnya, eeh malah tidak ngaji. Jadi keliru, melakukan yang mubah, tapi meningggalkan kewajiban. Musik jika untuk menggembirakan keluarga boleh saja, tapi jika menjadi industri itu menjadi mudharat.
Kritik Ahmad Dani
Harry yang punya nama asli Hariyadi Wibowo mengakui, seorang artis jika ingin namanya melambung, kadang harus membuat sensasi dan kegilaan tertentu, bahkan sampai pada tahap melanggar aturan Allah. Ia memberi contoh, Ahmad Dhani kerap menggunakan simbol-simbol zionis Yahudi, seperti bintang David, simbol mata satu (Illuminati), dan simbol-simbol lain gerakan Freemasonry. Lebih dari itu, Ahmad Dani pernah menjadikan alas panggungnya dengan lafadz Allah. Bila melihat video clipnya, akan terlihat simbol mata satu. Bukan hanya itu, Dani terang-terangan mendukung Lady Gaga, sang pemuja setan. Dia pengagum Gus Dur yang liberal. Dia juga bangga dengan garis keturunan dari ibunya yang berdarah Yahudi (Kohler).
“Ahmad Dani itu memang setan. Orang fasik ini jangan dibirakan. Orang seperti Dani, gak pantas bicara soal agama, karena ia masih suka ikhtilat (bercampur dengan wanita-wanita cantik), kaburo maktan,” kata Harry Moekti berang. Suatu ketika Harry pernah diajak ngerock dalam satu panggung dengan Ahmad Dani di Kalimantan (Beurau). “Saat itu karpet panggung menggunakan lambang Allah. Tawaran itu saya tolak mentah-mentah. Sebetulnya di belakang itu, ada peran produser yang mensettingnya, mengingat musik dengan sensasinya sudah  menjadi industri,” tandas Ustadz yang kini menjadi aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 
Bukan hanya Ahmad Dani yang melakukan sensasi untuk melambungkan namanya, seorang Julia Peres alias Jupe dan Dewi Persik (Depe) pun menciptakan sensasi yang tak kalah gilanya. Perseteruan antara Jupe dan Depe, kata Harry, sengaja disetting untuk mengangkat kembali namanya yang hampir tenggelam di dunia hiburan.
“Dulu, Rhoma Irama dan Elvie Sukaesih juga sempat dibuat konflik yang direkayasa. Kemudian produser membuat event besar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menyatukan Rhoma dan Elvie. Yang jelas ini adalah pasar. Dan benar saja, ketika itu penonton membludak di TMII untuk menyaksikan moment yang ditunggu-tunggu,” kata Harry.
Contoh lain, lanjut Harry, adalah membenturkan Inul Daratista dengan umat Islam, termasuk dengan H. Rhoma Irama, yang memprotes goyang ngebornya. Ingat! Dibalik konflik itu ada pemodal. Nama Inul sejak itu menanjak, karena menjadi trend topic di masyarakat.
Di luar negeri pun diciptakan konflik antara grup band The Beatles dengan The Rolling Stones.  Soal sensasi, Rolling Stone lebih unggul dari The Beatles. “Ketika anggota band Rolling Stone ngeganja, lebih jorok, ternyata itu membuatnya lebih ngetop.
Yang pasti, gaya hidup liberalisme membuat generasi muda muslim menjadi jauh dari syariat. “Kalaupun ada artis yang masih shalat atau umrah, tapi tetap pacaran. Cape deh..!”
Jika Lady Gaga diprotes karena alasan mempertontonkan pornografi pada setiap penampilannya, maka pedangdut Trio Macan pun tak kalah ekstrimnya dengan Gaga yang juga mempertontonkan goyang erotisnya dan berpakaian seronok.
Bagi Harry, orang seperti Lady Gaga tak perlu diekspos, cukup dilarang saja. Karena bila diekspos, akan membuat namanya semakin melambung. Semakin controversial membuat artis itu semakin tinggi nilai jualnya. “Pemberitaan media juga yang membesarkan nama Lady Gaga. Apalagi jika media itu segologan dengannya,” kata Harry tersenyum.Desastian

Jati Diri Wanita Muslim Dalam Diri Siti Khodijah ra.




Jati Diri Wanita Muslim Dalam Diri Siti Khodijah ra.
 Para wanita muslimah hendaknya mengambil contoh dan teladan dari tokoh-tokoh wanita dunia yang telah mendahului mereka, khususnya yang tidak disangsikan lagi kesholehannya dan telah diberi kabar gembira oleh Allah swt dengan syurga . Mempelajari sirah dan perjalan hidup mereka adalah sangat urgen, karena dengannya kita bisa menatap kedepan , menempuh kehidupan yang lebih sempurna dan kebahagian di dunia dan di akhirat.
Salah satu tokoh wanita yang patut dijadikan suri tauladan bagi para wanita muslimah sekarang adalah Siti Khodijah a. s. , istri Rosulullah saw, ummahatu al mukminin, seorang wanita yang pertama kali memeluk dienul Islam, dan salah satu wanita yang terkemuka  didunia ini.
Dalam salah satu hadits disebutkan :
عن ابن عباس رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( سيدة نساء أهل الجنة بعد مريم : فاطمة وخديجة وامرأة فرعون ) أخرجه أحمد
Dari Ibu Abbas ra berkata ; bahwasanya Rosulullah saw bersabda : “  Para wanita penghuni syurga setelah Maryam adalah : Fatimah , Khodijah dan istri Fir’aun ” ( HR Ahmad )
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( هذا جبريل يا خديجة ، وقد أمرني أن أقرأ عليك السلام ويبشرك ببيت في الجنة من قصب لا صخب فيها ولا نصب )
Bersabda Rosulullah saw : ” Wahai Khodijah , ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam dari Allah kepada-mu dan memberikan kabar gembira kepadamu dengan rumah yang terbuat dari kayu , tidak ada keributan dan rasa capai di dalamnya . ” ( HR Bukhari  dan Muslim )
Setelah kita mengetahui dari dua hadist di atas bahwa Khadijah ra adalah wanita ahli syurga, kita sebagai wanita muslimah pada abad ini harus mencari sebab-musabab kenapa Khodijah ra menjadi ahli syurga.  
Rahasia yang menjadikan Khodijah masuk syurga ternyata telah diungkap sendiri oleh Rosulullah saw dalam suatu haditsnya , tepatnya ketika pada suatu hari Aisyah ra  merasa cemburu dengan Khadijah ra yang walaupun sudah lama meninggal , akan tetapi Rosulullah saw masih saja terus mengingat-ingat kebaikannya , ketika itu juga Aisyah ra berkata kepada Rosulullah saw : ” Wahai Rosulullah saw bukankah Allah swt telah menggantikannya dengan istri yang lebih muda dan lebih baik darinya ?
Mendengar pernyataan tersebut, Rosulullah saw menjadi murka , seraya bersabda :
” لا والله ما أبدلني خيرا منها ، آمنت بي إذ كفر الناس ، صدقتني إذا كذبني الناس ، وواستني بمالها إذ حرمنى الناس ، ورزقني الله منها الولد دون غيرها من النساء . “
” Tidak, demi Allah , tidak ada yang bisa menggantikannya : dia beriman kepada-ku disaat  kebanyakan orang mengkafiri-ku, dia membenarkan-ku pada saat mereka mendustakan-ku, dia membantu-ku dengan harta-nya  ketika mereka pada meninggalkan-ku, dan darinya aku dikaruniai keturunan pada saat istri-istriku yang lain tidak bisa mempunyai anak ”
Dari hadist di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Rosulullah saw telah menerangkan tiga hal yang menyebabkan Khadijah ra masuk syurga, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah swt.
Pertama : Mempunyai keimanan yang tangguh .
<< آمنت بي إذ كفر الناس >>
Keimanan yang tangguh ini memiliki beberapa ciri diantaranya :
1//. Keimanan tersebut  tumbuh dari rasa kesadaran dan atas dasar ilmu, bukan karena ikut-ikutan atau karena takut dikucilkan . Hal ini terlihat dengan jelas, ketika beliau – walau hanya seorang wanita – telah berani menyatakan keimanannya pada nabi Muhammad saw , di saat orang lain pada menghindar dan mengkafirinya.
Keimanan yang tangguh ini tidak goyah , walau selalu di goyang,  yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan.  Keimanan semacam inilah yang mengantarkan orang yang memilikinya menuju syurga.
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :
<< من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه دخل الجنة >>
Barang siapa yang mengucapkan ” La Ilaha Illa Allah ” dengan ikhlas dari hatinya , niscaya akan masuk syurga ”
2//. Mendukung kepada orang- orang yang membawa kebenaran.
Keimanan yang tangguh itu akan mengantarkan seseorang untuk mendukung  orang- orang yang membawa kebenaran, siapa saja tanpa pandang bulu, sekalipun dia bukan dari keluarga , golongan atau kelompoknya . 
<< صدقتني إذا كذبني الناس >>
3//. Menyakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang- orang yang selalu menyebarkan kebenaran dan berbuat baik kepada orang lain.
Ini terlihat jelas pada diri Siti Khadijah r.a , ketika Rosulullah saw pulang dari gua Hira dalam keadaan takut dan cemas setelah ditemui malaikat Jibril as, seraya mengatakan kepada siti Khadijah :
زملوني… زملوني … زملوني …
” selimutilah saya…selimutilah saya…selimutilah saya ! “ 
Melihat keadaan suaminya seperti itu, siti Khadijah yang mempunyai keimanan yang tangguh tadi, tidak lantas ikut panik dan menjerit-jerit, tapi tetap tegar dan mengatakan dengan sepenuh hatinya :
كلا … والله لا يخزيك الله أبدا ، إنك لتصل الرحم ، وتقرى الضيف ، وتحمل الكل ، وتكسب المعدوم ، وتعين على نوائب الحق .
” Sekali- kali tidak  !  Demi Allah , sekali- kali Allah tidaklah akan menghinakan kamu selamanya , sesungguhnya  anda benar-benar orang yang suka menyambung tali persaudaraan, menghormati para tamu, menanggung orang – orang yang membutuhkan, berusaha memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak mampu, dan membantu orang –orang yang ditimpa musibah.”
Pernyataan Siti Khadijah ra di atas mengandung beberapa pelajaran : 
1.  Menunjukkan ketegaran Khodijah di dalam menghadapi suatu masalah , hal ini dikarenakan keyakinannya kepada Allah yang begitu kuat. Allah berfirman :
 << وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ >>
“  Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi    petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami ” ( QS As Sajdah : 24 ) .
1.  Menunjukkan bahwa Siti Khadijah telah mampu memahami dengan baik ilmu-ilmu kemasyarakat dan ” sunnatullah ” di dalam  kehidupan manusia ini. Yaitu bahwa siapa saja yang berbuat baik, walaupun sekecil apapun, niscaya dia akan melihatnya  cepat atau lambat.
Nilai- nilai semacam ini sebenarnya merupakan bagian dari  Aqidah Islam yang harus diyakini oleh  setiap muslim.  Sangat banyak ayat- ayat Al Qur’an dan hadist- hadits nabi yang menunjukkan kaedah ini.  Diantaranya :
<< فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ، ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره >>
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
 Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
<< والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه >>   
Allah akan senantiasa menolong hambanya,selama hamba tersebut menolong saudaranya . ”
1.  Menunjukkan bahwa Siti Khadijah telah memahami bahwa orang- orang yang lemah merupakan sumber kekuatan bagi orang- orang yang beriman.
Di dalam hadist di sebutkan :
<< إنما تنصرون وترزقون بضعفائكم  >>
” Sesungguhnya kalian akan mendapatkan pertolongan dan limpahan rizqi dari orang- orang yang lemah . ” ( HR Bukhari
4// . Keimanan ini mempunyai landasan ilmu yang kuat .
Keimanan yang tidak mempunyai landasan ilmu yang kuat, otomatis akan mudah goyang dan mudah terpengaruh dengan orang lain.
Dalam suatu riwayat disebutkan, ketika Rosulullah saw masih dalam keadaan cemas ketika melihat malaikat., beliau ( Siti Khadijah as ) menghiburnya dengan kata-kata yang mengandung keilmuan yang mendalam :
أدخل رأسك تحت درعي … أبشر هذه ملك ، إذ لو كان شيطانا لما استحيا
” Masukkan kepala anda ke dalam baju-ku, …. Ini adalah kabar gembira, Karena  yang anda lihat adalah malaikat, jika ia syetan tentunya ia tidak malu.”
Tidak sampai di situ saja, ilmu syareah tadi didukung dengan ilmu-ilmu yang lainnya, seperti ilmu sosiologi dan antropologi, atau ilmu –ilmu kemasyarakatan  sebagaimana yang terungkap di dalam cerita di atas.
Diantara dalil- dalil yang menyebutkan bahwa keimanan harus berdasarkan atas ilmu adalah firman Allah swt :
 << فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ >>
 ” Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah ” ( QS Muhammad : 19 )
Beberapa peristiwa di bawah ini menunjukkan bahwa Khodijah as merupakan sosok yang selalu memperhatikan ilmu dan terus mencarinya sehingga ditemukan kebenaran:
1.  Menanyakan tafsir mimpinya kepada ulama pada zamannya , Waraqah bin Naufal , yaitu ketika dia melihat matahari masuk ke rumahnya dan menyinar rumah- rumah sekitarnya juga .
2.  Mencari orang yang amanat untuk mengurusi dagangannya
3.  Menikah dengan orang yang amanat dan berakhlaq mulia.
4.  Membawa Nabi Muhammada saw kepada Waraqah untuk dimintai pendapatnya tentang pertemuannya  dengan Jibril di gua Hira.
Kedua : Menginfakkan hartanya untuk sebuah perjuangan.
<< وواستني بمالها إذ حرمنى الناس >>
Sebab kedua yang mengantarkan Siti Khadijah sebagai penghuni syurga adalah keikhlasannya di dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah demi tegak dan tersebarnya Dinul Islam. Banyak contoh serupa yang menguatkan pernyataan di atas, bahwa infak di jalan Allah adalah satu jalan yang mengantarkan seseorang untuk masuk syurga. Ini terlihat dengan jelas pada diri sahabat agung, khalifah ketiga, Ustman bin Affan yang menginfakkan sebagian besar hartanya untuk biaya perang fi sabilillah .
Dalam hal ini Rosulullah saw bersabda :
 << لا يضرك بعد اليوم يا عثمان >>
” Wahai Utsman, ( berbuatlah sesuka hatimu ) setelah ini, karena semua amalanmu yang kamu berbuat tidak  akan  bisa menghalangimu masuk syurga  ”
Allah berfirman  :
<< إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ >>
 ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ” ( QS Al Hujurat : 15 )
Ketiga : Membuat ridha suami .
<< ورزقني الله منها الولد دون غيرها من النساء >>
Dalam hal ini , beliau mampu memberikan hak, perhatian , kecintaan, dan keturunan bagi suaminya . ( Zaenab, Ruqiyah, Umm Kaltsum, Fatimah, Qasim, Toyib, Thohir ) 
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Khadijah as tidak pernah  bersuara di atas suara suaminya. Yang jelas, khadijah telah mengetahui kadar keagungan suaminya dan memberikan yang terbaik untuk keagungannya.
 << نسائكم من أهل  الجنة  العنود على زوجها التى إذا غضب جاء ت حتى تضع يدها فى يد زوجها و تقول : لا أذوق غمضا حتى ترضى >>
” Wanita- wanita kalian yang merupakan penghuni syurga adalah yang perhatian kepada suaminya , jika ia mendapatkan suaminya sedang marah, segera ia mendatanginya , dan meletakkan tangannya di di dalam tangan suaminya, sambil mengatakan : “  Saya tidak akan bisa tenang sehingga anda ridha “ 
Memberikan keturunan dan mendidik mereka dengan baik ( kaderisasi ) , merupakan sumber amal sholeh yang memasukkan kita ke syurga juga.
Dalam suatu hadits disebutkan :
“ Barang siapa yang merawat dua anak perempuan sehingga mereka baligh, maka ketika ia datang pada hari kiamat,  saya dan dia kedudukannya seperti ini “- seraya menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya – ( HR Muslim  )
Oleh: Dr. Zain An Najah
(www.ahmadzain.com /www.globalmuslim.web.id)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...