Pages

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang & persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

Pesan Ruqaya, gadis 8 tahun, kepada umat Muslim Suriah dan seluruh dunia


 Seorang gadis Muslimah yang baru berusia 8 tahun, berceramah di Konferensi Khilafah di Sydney, Australia, yang digelar pada 16 September 2012. Tema pada konferensi tersebut adalah tentang revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang terkait dengan masa depan Dunia Islam.Ruqaya, mewakili anak-anak Muslim di Sydney, menyampaikan beberapa pesan untuk kaum Muslimin di seluruh dunia, terkhusus kepada Muslim di Suriah, terkait perang yang sedang terjadi di Suriah. Berikut terjemahannya:
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu
Bissmillahirrahmarirrahiim
Alhamdulillahirobbilalamiin
Saudara-saudariku se-Islam,
Karena dunia (musuh) bersatu melawan orang-orang mukmin di Suriah, berusaha membahayakan mereka dan membajak revolusi kami yang ikhlas dan diberkahi. Anak-anak di Sydney ingin menyampaikan pesan harapan dan dukungan kepada kaum Muslimin di negeri Syam. Terutama kepada anak-anak dan para ibu. Dengan ini, saya ingin menyampaikan tiga pesan:
Pesan pertama saya adalah untuk kaum Muslimin di Suriah:
Saudara dan saudariku se-Islam, revolusi ini telah menunjukkan bahwa umat ini masih hidup dan baik-baik saja. Perasaannya untuk Islam, cintanya untuk Jihad, dia (umat) melepaskan dirinya sendiri dari ketakutan yang dia rasakan, dan dia merindukan untuk sekali lagi hidup di bawah bendera Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
Wahai Ahlu Syam (penduduk Syam), kalian tetap dalam doa kami, pertahanan kami dan hati kami. Ketika kalian menangis, kami menangis. Ketika kami tahu mereka bersedih, kami bersedih, dan ketika syuhada gugur, kami juga tersungkur jatuh dalam sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, memohon kepada-Nya untuk memberikan kemenangan dan mengembalikan milik kalian.
Jadi, kami mohon untuk tetap bersabar dan tabah di atas kebenaran.Kemenangan telah dijanjikan. Dan setiap orang yang sadar bisa melihat bahwa kemenangan ini akan segera datang, insya Allah. Karena Suriah adalah tanah yang diberkahi dan orang-orangnya adalah orang-orang yang diberkahi.
Sebagaimana Nabi hallallahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Keberuntungan (dan surga) untuk negeri Syam." Maka kami bertanya, "Kenapa begitu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena malaikat-malaikat Ar-Rahman membentangkan sayap-sayapnya untuk menaungi negeri Syam.." (HR.Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Ath-Thabarani, Yusuf bin Sufyan Al-Fasawi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Pesan kedua saya kepada seluruh umat Muslim
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan pembelaan agama, maka kalian wajib menolong mereka." (QS. Al-Anfal [8]: 72)
Anak-anak sekecil seperti diriku bisa ditemukan di jalan-jalan, bergabung dalam revolusi ini, mengambil resiko dalam hidup mereka untuk membawakan makanan, air dan obat-obatan kepada anggota keluarga mereka yang terluka.Sebagian dari mereka tidak pernah kembali kepada ibu-ibu mereka, tetapi gugur bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Para wanita dan anak-anak terpaksa bergabung dalam pertempuran ini karena tidak ada yang melindungh umat ini, tidak ada yang menjaga mereka, tidak ada yang mengorganisir upaya tersebut, tidak ada pasukan yang membela mereka dan tidak ada yang mempersatukan mereka.
Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Imam (khalifah) adalah sebuah perisai, (mush-musuh Islam) diperangi dari belakang perisai itu dan perisai itu untuk berlindung (dari serangan musuh)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Siapa yang akan mengusahakan perisai tersebut? Jika umat tidak tahu atau tidak ada orang yang tahu di mana (perisai itu –red). Jadi, kaum Muslimin di manapun mereka tinggal, harus bergabung dalam upaya untuk mengembalikan perisai itu, Khalifah, perisai yang akan melindungi laki-laki, perempuan, dan anak-anak ketika mereka dalam bahaya.
Pesan ketiga saya adalah untuk para hadirin di depan saya:
Kalian semua telah melihat video-video yang terjadi di Suriah. Orangtua saya memiliki sebagian besar untuk melihat sebagian dari video-video itu. Tetapi diketahui bahwa di sana banyak terjadi yang lebih buruk. Bagaimana bisa kita menerima ini terjadi terhadap saudara dan saudari kita? Bagaimana bisa kita menerima ini terjadi terhadap anak-anak kita, ibu-ibu kita, dan ayah-ayah kita?
Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Walaupun kita berdoa dan memberikan semua sumbangan, tetapi ini semua tidak menyelesaikan masalah.
Tidakkah kita lupa bahwa nadi kita berdenyut dari satu jantung. Kita bernafas dari paru-paru yang sama, air mata kita keluar dari mata yang sama, dan darah kita mengalir dalam pembuluh darah yang sama.
Jadi, hari ini adalah hari penting, setelah kita selesai dari konferensi ini, berjanjilah kepada Allah bahwa kita akan berjuang bersama mereka yang sedang berjuang untuk menerapkan Islam. Tidak ada yang terlalu muda (untuk berjuang -red). Kita ingat pada seorang pemuda hebat, sahabat Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, seperti 'Ali radhiallahu 'anhu yang menerima Islam pada usia 10 tahun.Atau Usamah bi Zaid radhiallahu 'anhu yang memimpin pasukan Islam pada usia 17 tahun. Jadi kita harus bekerja keras untuk mencapai kemenangan ini.
Cukuplah generasi kalian dan generasi orangtua kalian tumbuh dalam ketiadaan Khilafah. Jangan biarkan generasiku ditambahkan pada daftar ini.
Kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk membimbing dan melindungi saudara dan saudari kita di Suriah. Kita berdoa kepada Allah semoga Dia memberikan mereka kemenangan secepatnya dan menolong anak-anak yatim kita dan para janda. Kita berdoa kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala menerima mereka yang telah meninggal sebagai syuhada di dalam Jannah yang tertinggi, dan akhirnya kita berdoa kepada Allah untuk menegakkan perisai yang akan melindungi milik mereka, ibu-ibu mereka, tanah mereka dan agama ini.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu
(siraaj/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)

Jumat, 23 November 2012

Menjadi Ibu Panutan

Ibu adalah nama lain dari kasih sayang yang indah, yang diberikan Allah sebagai rahmat bagi hambaNya. Ibu ibarat malaikat yang menjadi pelindung anak- anaknya dari setiap kejahatan yang akan menyakiti mereka. Bahkan ketika manusia terlahir tanpa dampingan seorang ibu, rasanya mereka akan siap menukar apapun yang dimilikinya demi kehadian sang ibu tercinta. Maka tak heran jika seorang ibu selalu diagungkan kebaikannya, baik ketika dia masih ada ataupun sudah tiada.  

Maha suci Allah yang telah menciptakan kedekatan antara seorang ibu dengan anak- anak mereka, sebagai sebuah kemanusiawian.  Setiap anak akan begitu nyaman berada di samping ibunya. Karena itulah, secara alamiah pula, anak-anak melihat ibu sebagai sosok panutan yang patut diikutinya. Seperti spons kering yang menyerap setiap air yang ada di dekatnya, seperti itulah anak- anak dengan polos mencontoh cara berucap, dan bersikap para ibu mereka.

Maka tak dipungkiri lagi, jika ibu adalah ibarat guru pertama bagi anak-anak. Dengan ibu jugalah, anak- anak belajar mengenali dan mempelajari dunia ini. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai seorang ibu, agar kita pantas dijadikan tauladan yang baik untuk anak- anak kita?

Pertama, menjadi ibu yang penuh kasih sayang
Yang pertama dan utama jadilah ibu yang baik dan kasih sayang. Dari sikap terpuji inilah anak- anak akan mengenali dan mencontoh bahwa hanya kebaikan dan kasih sayang lah yang sebenarnya diperlukan jika mereka ingin selalu disayangi, dan diterima oleh kehadirannya oleh sesama. Sebaliknya, mereka juga akan belajar membedakan bahwa perbuatan jahat hanya akan menyakiti orang lain dan merugikan diri mereka sendiri.

Kedua, ramah dan menghargai orang lain
Selain itu, ajarkan kepada anak bahwa setiap orang itu berbeda, dan kita harus menghargai perbedaan-perbedaan itu. Tanamkan pada diri anak- anak kita bahwa tidak seorang pun senang diperlakukan kasar. Maka ucapan terima kasih, tolong, dan maaf, harus dibiasakan sedari mereka kecil, agar terpola dalam pikiran anak bahwa sikap ramah adalah hal penting yang dibutuhkan untuk menjalin sebuah persahabatan.

ketiga,  tegas dalam berprinsip.
Kenalkan pada anak- anak kita, bahwa di dunia ini juga ada hal yang tidak bisa kita tawar tentangnya. Sebagai contoh adalah masalah akidah. Kenalkan kepada mereka berikut alasannya tentang kepastian dan kepatenan nilai- nilai tersebut untuk harus selalu kita patuhi.

keempat, Luangkan Waktu Untuk Komunikasi Yang Hangat
Jika kita mengharapkan anak akan patuh, maka komunikasi yang hangat dari kita sebagai ibu, sangat penting untuk dilakukan. Dan dalam berkomunikasi, anak dan ibu juga membutuhkan banyak waktu. Maka sudah seharusnya kita menyediakan waktu untuk membangun hubungan yang berkualitas dengan anak- anak mereka.

Tunjukkan kepada anak, bahwa dengan berkomunikasi, kita dapat menjadi partner mereka yang baik dalam mencari kebaikan. Jika akhirnya nasehat harus diberikan, maka biarkan terlebih dahulu mereka mengemukakan ide dan pikiran mereka, dan jangan beri batasan agar mereka juga tidak mengambil jarak dengan kita.  Dengan itu InshaAllah mereka akan menjadikan kita sebagai contoh, karena kemampuan kita menjadi pendengar yang merangkul dan mengayomi mereka, saat mereka susah.
Kelima, bersikap positif
Sebagai seorang ibu, hendaknya kita berhati- hati dalam bersikap dan berucap. Anak- anak kebanyakan akan meniru materi, pemikiran bahkan gaya bicara kita terutama bila mereka berada di dekat kita. Pembicaraan dan sikap yang positif akan memberikan contoh yang baik pula bagi mereka, agar kelak menjadi pribadi yang positif.
keenam, Konsisten
Dari semua sikap yang kita berikan kepada anak- anak kita tersebut, maka tak akan ada gunanya jika kita sendiri tidak konsisten dengan yang telah kita ajarkan. Pencontohan sikap baik yang terus menerus dan konsisten, akan lebih mudah terbahasakan kepada anak ketimbang hanya sekedar nasehat atau kata- kata yang kita suarakan ke telinga mereka.

Jadi Akhwat Kudu Kuat


http://voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos3/akhwatku.jpg&h=156&w=208&zc=1 Akhwat, sebutan ini biasanya diberikan buat wanita sholeha yang identik dengan kerudung raksasa dan jilbab longgarnya. Akhwat juga sangat menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama. Saat ketemu dengan saudari seiman, senyum dan salam selalu menghiasi wajah dan lisannya. Diapun juga senantiasa menjaga pandangan dari laki- laki bukan mahram. Dan yang paling dikenal dari sosoknya adalah rasa malu, yang membuatnya semakin terlihat cantik.
Seorang akhwat juga seringkali diidentikan dengan kelembutan. Tapi lembut bukan berarti lemah dan cengeng. Tapi... gimana dunk dengan fenomena yang ada sekarang ini, dimana beberapa akhwat yang rajin banget update status di dunia maya tentang curahan hati mereka?Bahasa yang mereka pakai juga romantis mendayu- dayu, atau trenyuh sekalian, yang intinya dipasang untuk mewakili hatinya yang lagi galau. Padahal kalau jaman dulu buku diari tuh disimpan dan di jaga banget biar orang nggak tau, tapi sekarang makin banyak diumbar biar semua orang ngerti. Nggak tahu tujuannya biar membuat orang iba sama dia atau justru menarik simpati (khususnya para ikhwan).
Sayang banget ya, padahal kalo situasi hati udah nggak enak, nulis status yg bikin nelangsa malah bakal nambah sedih suasana. Udah gitu belum tentu masalah bakal keluar dan nemuin jalan keluar, ya nggak?. Mungkin kalo kita ambil jalan pintas dengan curhat langsung aja sama Allah, pasti akan lebih adem dan damai di hati.

Selain itu, seorang akhwat juga identik dengan gampang nangis dan ngerasa iba dari pada laki-laki. Menangis sih boleh- boleh aja, manusiawi banget kok. tapi kalau dijadikan kebiasaan itu menandakan orangnya mudah rapuh alias cengeng. Seorang akhwat harus bisa belajar menyikapi sesuatu secara dewasa. Kenapa? karena merekalah yang dekat dengan dunia dakwah yang tentunya akan berhadapan dengan 1001 karakter manusia, lengkap dengan pernak pernik kesulitan dan keunikannya. Kalau hati nggak luas, dewasa, dan mudah rapuh, wah bisa- bisa dakwah berhenti di tengah jalan.

Jadi akhwat kudu kuat
Kita semua adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk mengesakanNya. Atau dengan kata lain menegakkan Kalimat Laailaha Ilallah di dunia ini. Dan ini bukan perkara simple. Rasulullah dulu berdakwah hingga giginya patah, dilempari batu, di caci maki, dibilang orang gila, diteror, diancam mau di bunuh, dll. Bener- bener deh, jalan dakwah memang sangat berat dan nggak hanya sebatas teori, atau sekedar kata ‘Jadilah..!’ maka akan terjadi. Yang ada ‘jadilah!’ lalu kita harus bergerak untuk menjadikannya, dan baru hal itu akan jadi kenyataan.

So, buat kamu para akhwat, Selamat datang di dunia dakwah.… dan kamu kudu kuat.

Jadilah yang terkuat dalam kesabaran seperti Sumayyah binti Khayyat yang walaupun disiksa dan di buang ke padang pasir yang sangat panas dan menyengat, serta diletakkan di atas dadanya sebongkah batu yg berat agar dia keluar dari din, tapi dia tidak meratap, dan tetap mengucapkan, Ahad.. Ahad..

Jadilah sekuat Nusaibah binti Ka'ab yang tidak menangis walau tangannya terpotong, demi membela Rasulullah SAW di perang Uhud. Atau setangguh the Black Rider, si penunggang kuda berbaju hitam, Khaulah binti Azur yang membuat Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasannya memacu kuda ke tengah-tengah medan tempur.

Jadilah sekuat Rumaisa binti Marhan atau Ummu sulaim yang tegas menolak lelaki kafir yang ingin menikahinya, walaupun dia sangat kaya.

Jadilah sekuat dan seikhlas siti Hajar yang rela dan tetap kuat saat ditinggal Nabi Ibrahim 'Alaihissalam di padang pasir yang tandus dan gersang bersama putranya, Ismail.
(NayMa/voa-islam/www.syahidah.web.id)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...