Pages

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang & persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kamis, 17 Mei 2012

Tampilnya China Sebagai Sebuah Kekuatan



peta-china.jpg (443×354)
بسم الله الرحمن الرحيم
1. Lonjakan ekonomi China tidak terjadi secara tiba-tiba.  Akan tetapi itu adalah hasil dari strategi yang direncanakan dan diatur dengan baik.  Dimulai pada masa Deng Xiaoping yang pada waktu itu dikenal oleh sebagian orang dengan istilah “Politik Pintu Terbuka”.  Setelah Xiaoping, penggantinya menggunakan istilah “Kebangkitan Damai China”.  Kedua strategi tersebut -Politik Pintu Terbuka dan Kebangkinan Damai China- pada substansinya berbicara tentang tranformasi China menjadi kekuatan ekonomi dan menerjemahkan kekuatan ekonomi itu menjadi kekuatan militer yang bisa mempertahankan kepentingan-kepentingan ekonomi dan perdagangan China.  Begitu juga, kedua strategi itu ditujukan untuk menghadapi setiap pihak yang akan meminimalkan misi China dalam mempromosikan ideologinya secara kuat di luar negeri dan menghadapi siapa saja dari kekuatan besar yang berusaha menghadang China, utamanya Amerika Serikat.  Disamping itu, kedua strategi itu juga dimaksudkan untuk meredakan kekhawatiran tetangga China dan meyakinkan mereka akan tidak adanya niyat China dalam memperluas hegemoninya di kawasan Asia Pasifik.
2. Untuk merealisasi hal itu, China mengembangkan perekonomiannya melalui dua tahap: pertama, reformasi pedesaan. Kedua, industrialisasi pedesaan dan reformasi perusahaan.  Hal itu didukung oleh beberapa faktor diantaranya upah buruh lokal yang murah, penguasaan teknologi maju dari barat - teknologi maju dirahasiakan- dan Rusia, urbanisasi yang cepat, eksport yang digerakkan oleh industri dan penjualan barang-barang murah ke seluruh dunia.  Sebagian besar ekspor industri China adalah ke Jepang dan Jerman. Oleh karena itu China pada era 80-an dan 90-an mengalami pertumbuhan ekonomi yang besar.  Sejak tahun 1979 sampai tahun 2010 rata-rata angka pertumbuhan PDB China mencapai 9,91 %, dan tertinggi pernah mencapai 15,2 % pada tahun 1984.  Pada dekade pertama abad ini, China mencatatkan angka pertumbuhan PDB 13 % pada tahun 2007 sebelum akhirnya mengalami penurunan.  Perekonomian China belum benar-benar muncul kecuali pada dekade lalu.  PDB China melampaui PDB Italia pada tahun 2000, Prancis tahun 2005, Inggris tahun 2006, Jerman tahun 2007 dan akhirnya mengalahkan PDB Jepang pada tahun 2010 (Nin-Hai Tseng, ““China is richer, but most Chinese are still poor”, CNN online, 17 Feb, 2011).  Hal itu menjadikan China sebagai perekonomian kedua terbesar setelah Amerika Serikat.  Sebagian pihak memprediksi, China akan menjadi kekuatan perekonomian terbesar di dunia pada akhir tahun 2019 (“How to gracefully step aside”, The Economist online, 11 Januari 2011).  Periode itu mendorong sebagian orang China menganggap bahwa masa keemasan (Shengshi) China telah datang.
3.  Masalah utama kedaulatan perekonomian China adalah bagaimana menjaga kurs mata uang China Renminbi (juga dikenal dengan Yuan) pada tingkat tertentu terhadap Dolar Amerika sehingga bisa menjamin ekspornya akan tetap (harganya) murah dan atraktif mendorong negara-negara di seluruh dunia mengimpor dari China.  China merealisasi hal itu melalui sejumlah sarana:  Diantaranya sebagai contoh, ketika para pemilik pabrik di China memperoleh pembayaran untuk barang ekspor mereka dalam bentuk Dolar AS, dolar itu segera dirubah ke Yuan.  Hal itu karena tender/transaksi legal di pasar dalam negeri China adalah menggunakan Yuan.  Para pemilik pabrik harus membayar kepada para suplier, pekerja dan transaksi dalam negeri (faktur, tagihan, biaya, dll) dalam mata uang Renminbi (Yuan).  Ini menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap Yuan.  Sebab permintaan Yuan meningkat dan mengakibatkan naiknya nilai Yuan terhadap Dolar.  Oleh karena itu Bank Sentral China menggunakan sejumlah teknik untuk keluar dari masalah ekses Renminbi dari pasar dalam negeri.  Diantaranya adalah obligasi dalam negeri dan alat-alat finansial lainnya.  Bank Sentral China juga mengembalikan dolar yang diperolehnya ke perekonomian Amerika Serikat melalui pembelian surat utang Amerika Serikat.  Dengan jalan ini pemerintah China mampu menghalangi naiknya nilai (kurs) mata uangnya terhadap dolar.  Dengan jalan ini China menjadi negara utama pemberi utang kepada Amerika Serikat.  Pada bulan Mei 2011 China menguasai 26% dari surat berharga untuk pasar asing yang dikelola oleh departemen keuangan Amerika Serikat (setara dengan 8% dari total utang publik AS).
China sangat keras membela kebijakan Yuan.  Beijing berargumentasi jika nilai Yuan naik dengan cepat hal itu akan berpengaruh negatif terhadap ekspornya (sehingga komoditi China biayanya akan lebih banyak dan kurang mampu bersaing di luar negeri).  Jika itu terjadi maka pabrik-pabrik akan terpaksa tutup dan akibatnya jutaan warga China akan menganggur.  Hal itu akan menjadi ancaman berbahaya terhadap kestabilan China.
4.  Ironisnya, Amerika -partner perdagangan terbesar China- sudah dan terus memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi China.  Hal itu dengan jalan Amerika memberi Beijing status Most Favoured Nation (MFN).  Amerika Serikat terus memperbarui status Most Favoured Nation (MFN) itu setiap tahun.  Padahal ada ketidakseimbangan neraca perdagangan antara AS dan China.  Sampai status itu dibakukan pada tahun 2000.  Dan Amerika mentolerir ketidakseimbangan dalam neraca perdagangan itu karena menguntungkan bagi dua tujuan penting:
Pertama, supaya China terus menerus disibukkan mengatur dan menjamin sumber-sumber di seluruh dunia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Hal itu memaksa China untuk mendapatkan resources lebih banyak dan lebih banyak lagi.  Sehingga China kurang memperhatikan pengembangan kemampuan militernya.  Penting diisyaratkan bahwa Amrika mengalahkan Uni Soviet melalui politik perlombaan senjata seentara para pembuat kebijakan di Washington meyakini bisa mengalahkan China melalui perlombaan dalam aspek ekonomi.
Kedua, untuk menciptakan kelas orang-orang China yang mencintai kapitalisme dan nilai-nilai Amerika.  Dengan begitu, China akan terancam untuk memberikan perubahan demokratis.  Dengan ungkapan lain, Amerika sudah dan terus mengintai untuk memicu revolusi di China menentang Partai Komunis melalui kelas menengah yang terpesona dengan kapitalisme.
Disamping itu, Amerika Serikat menurunkan kemampuan China dalam memainkan peran lebih besar di dalam urusan-urusan kawasan dan global.  Amerika bekerja agar pemerintahan China terus disibukkan oleh berbagai persoalan dalam negeri dan luar negeri yang terjadi di sekitar China.  Dan berikutnya bisa diekploitasi masalah HAM berkaitan dengan perlakuan China terhadap Tibet dan Xinjiang untuk menentang Beijing.  Amerika juga memanfaatkan masalah Taiwan, Korea Utara dan keamanan di kawasan Asia Pasifik untuk menjamin penyerapan tenaga para politisi China dan menyibukkan mereka dengan berbagai persoalan yang tiada putusnya.
5.  Amerika mengalami bencana yang dalam di Irak dan Afganistan disamping sedang dilanda krisis ekonomi global pada tahun 2008 yang memperuncing hubungan Amerika-China.  Amerika tidak lagi dinilai sebagai kekuatan besar seperti dahulu.  Dunia berubah dari satu kutub (uni polar) pada tahun 1991 menjadi multi kutub (multi polar) setelah invasi Irak pada tahun 2003.  Ketika itu, kekuatan-kekuatan besar bersaing dengan Amerika untuk mengontrol kawasan.  China adalah salah satu diantara negara-negara yang muncul ke permukaan.  Ada sebagian intelektual di Barat yang meyakini bahwa neraca kekuatan global sedang mengalami perubahan pasti untuk kepentingan China.  Beberapa buku yang menarik perhatian telah diterbitkan diantaranya berjudul: In the Jaws of the Dragon: America’s Fate in the Coming Era of Chinese Hegemony -Dalam Cengkeraman Naga: Masa Depan Amerika Di Tengah Era Hegemoni China- (oleh Eamonn Fingleton, 2008); Juga buku berjudul: When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order -Kapan China Memimpin Dunia: Akhir Dunia Barat Dan Lahirnya Tatanan Dunia Baru- (oleh Martin Jacques, 2009); dan buku berjudul: The Beijing Consensus: How China’s Authoritarian Model Will Dominate the Twenty-First Century -Konsensus Bejing : Bagaimana Model Otoritarianisme China Akan Mendominasi Abad Ke-21- (oleh Stefan Halper, 2010).
Pada konteks ekonomi tampak bagi seluruh dunia bahwa perekonomian China telah melewati badai finansial dengan lebih baik dari Amerika dan Eropa.  Oleh karena itu, para pemimpin politik dan ekonomi Amerika menyerang kebijakan Beijing secara agresiv terkait masalah penjagaan nilai kurs Renminbi (Yuan) yang rendah.  Mereka percaya hal itu akan menyakiti prospek ekonomi Amerika untuk bangkit dari sakit dan membahayakan kemampuan Amerika untuk bersaing di pasar global.  Pada Januari 2009, Mr. Geithner sebelum ia menjadi menteri keuangan AS menyatakan: “presiden Obama meyakini -didukung dengan sejumlah kesimpulan dari para ekonom secara luas- bahwa China bemain-main dengan mata uangnya” (Jackies Calmes,”Geithner Hints at Harder Line on China Trade“, New York Times Online, 22 Januari, 2009 ).  Kritik-kritik ini tidak pada tempatnya.  Sebab penurunan nilai dolar itu berkaitan dengan menurunnya cadangan federal untuk nilai dolar melalui pencetakan uang dolar baru.  Hal itu lebih kuat hubungannya (dengan penurunan nilai dolar) dari pada kaitannya dengan bank sentral China yang mendukung penurunan nilai Yuan.  Disamping bahwa China belakangan mengijinkan kenaikan nilai mata uangnya (Yuan), bukan karena tekanan Amerika, akan tetapi karena memperhatikan fakta bahwa sebagian dari perekonomiannya yaitu pasar property mengalamioverheating.  Hal itu menyebabkan penurunan PDB China yang sekarang mencapai sekitar 8%.
Sedangkan pada konteks militer, krisis finansial telah membuat Amerika Serikat mengurangi daerah operasi militernya.  Kementerian pertahanan AS “Pentagon” mengumumkan penurunan besar dalam anggaran pertahanan.  Beberapa program persenjataan telah didrop.  Amerika Serikat secara resmi telah meninggalkan kebijakan terjun ke dua medan perang pada saat yang bersamaan.  Dalam alur ini, Amerika dan sekutunya di kawasan Asia Pasifik menjadi jauh lebih perhatian dengan kemampuan militer China dibanding sebelumnya, khususnya terhadap angkatan laut China.  Melemahnya hegemoni militer Amerika di dunia memberikan dorongan kepada China untuk membesarkan otot militernya.  Sebagai contoh, pada November 2007 China melarang kapal induk USS Kitty Hawk untuk sampai ke selat Victoria di Hongkong.  Pada bulan Maret 2009 sejumlah kapal laut China mengancam kapal survei Amerika Serikat USNS Impeccable di laut China selatan.  Disamping China juga memodernisasi armada kapal perusaknya, China juga berencana untuk mendapatkan dua kapal pengangkut pesawat dan telah berinvestasi banyak dalam membangun kelas baru konvensional, penyerang nuklir dan kapal selam balistik.  Menurut Seth Cropsey, mantan wakil sekretaris angkatan laut AS, China dapat memiliki kekuatan kapal selam lebih besar dari yang dimiliki oleh angkatan laut AS yang terdiri dari 75 kapal selam dalam jangka waktu 15 tahun ke depan. Pada waktu China memodernisasi kekuatan militernya, maka menjadi sulit bagi Amerika untuk melindungi Taiwan.  Menurut kajian RAND tahun 2009, pada akhir tahun 2020, Amerika Serikat tidak akan bisa lagi melindungi Taiwan dari serangan China.  Disamping China mengkonsentrasikan kekuatannya pada Taiwan, angkatan laut China juga diproyeksikan menambah kekuatannya di laut China Selatan yang dianggap sebagai pintu gerbang China ke Asia Pasifik dan jalur transportasi hidrokarbon dunia.(Robert Kaplan, “The Geography of Chinese Power“, Foreign Affairs May/June 2010).
Sesuatu yang memicu alarm Amerika adalah perkembangan cepat kekuatan militer China dan ambisi Beijing dalam memanfaatkan kekuatan angkatan lautnya untuk menghalangi sampainya kapal Amerika ke beberapa wilayah perairan dan pelabuhan.  Karenanya Amerika belakangan diminta untuk memperbarui komitmen keamanannya dengan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik yang meliputi Jepang, Australia, Indonesia dan Korea Selatan.  Sebagaimana, Amerika Serikat juga berjanji memberikan USD 6,4 miliar sebagai senjata kepada Taiwan.  Dalam kunjungan Obama ke negara-negara Asia Pasifik tahun lalu, Obama setuju penempatan 2.500 pasukan angkatan laut secara tetap di Australia dan menambah pesawat tempur seperti pembom B-52.  Obama juga mengumumkan untuk mensuplay 24 pesawat tempur F-16 C/D bekas yang diperbarui kepada Indonesia.  Obama juga memperingatkan China akan perselisihan di laut China Selatan.  Obama mengatakan: “saya sudah mengarahkan team keamanan nasional saya untuk menjadikan eksistensi dan misi kita di kawasan Asia Pasifik sebagai prioritas … termasuk perkara yang vital, bukan hanya berkaitan dengan perekonomian kami akan tetapi juga berkaitan dengan keamanan nasional kami”.  Beberapa estimasi memperkirakan bahwa nilai perdagangan yang melalui laut China Selatan mencapai lima triliun dolar dimana bagian Amerika mencapai 1,2 triliun dolar.(Robert Maginnis, “U.S. Declares Cold War With China“, Human Events online, 25 November 2011).
Sebagaimana Amerika juga berupaya meningkatkan kerjasama perdagangan dengan negara-negara kawasan Asia Pasifik melalui Perjanjian Kerjasama Strategis Ekonomis Trans-Pasifik  (the Trans-Pacific Strategic Economic Partnership Agreement -TTP) untuk mengikat negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Australia, Selandia Baru dan Singapura dengan ikatan ekonomi yang kuat dan membatasi adanya komoditi China di negara-negara tersebut.
Ringkasnya
Tampak bahwa China memanfaatkan kemunduran Amerika.  China sekarang jauh lebih tegas dalam masalah laut China Selatan dan masalah perbatasan yang diperselisihkan dengan Jepang dan Vietnam.  China jauh lebih berani dan konfrontatif seputar permasalahan internasional.  Dimana Beijing belakangan bersikap melawan Amerika Serikat dan Barat di PBB dan memveto resolusi Dewan Keamanan terkait Suria.  Pada saat yang sama, kekuatan militer China belum sanggup menghadapi Amerika Serikat.  Namun kekuatan militer China tetap siap untuk menghalangi sampainya kapal perang Amerika ke sebagian jalur perairan dan pelabuhan -awal dari semacam doktrin Monroe untuk China-.  Pada saat yang sama, Amerika Serikat bekerja menilai permusuhan China yang belakangan terbongkar.  Amerika Serikat siap menggunakan semua resourcesnya untuk menghalangi China menggantikan posisinya pada dekade mendatang.  Seorang ilmuwan politik AS John Mearsheimer meredaksikan hal itu dengan jalan yang berbeda.  Ia mengatakan bahwa kekuatan hegemoni di belahan bumi barat akan berusaha menghalangi China menjadi kekuatan yang mengontrol belahan timur.  Isyarat ini menjadi drama abad ini.
Akan tetapi sebelum China bisa menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, China harus mengatasi sejumlah tantangan dalam negeri, yaitu: fokus berlebihan terhadap ekspor, dan ancaman perekonomiannya mengalami pelambatan.  Pada tahun 2007 presiden Wen Jiabao mensifati perekonomian China sebagai “tidak stabil, tidak seimbang, tak terkoordinasi dan tidak berkelanjutan”.  Masalah kependudukannya adalah aging populatin (populasi yang menua yaitu persentase jumlah penduduk usia tua makin membesar dibanding penduduk usia muda) -ini adalah akibat dari upaya Mao untuk membatasi jumlah penduduk China- dimana jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun mencapai 178 juta jiwa.  Jumlah ini akan menjadi dua kalinya pada akhir tahun 2030.  Masalah ini bukan hanya berarti makin kecilnya angkatan kerja, akan tetapi masalah pemeliharaan orang-orang yang sudah pensiun juga akan menjadi permasalahan sosial yang besar.  China juga menghadapi masalah pemilihan presiden baru oleh para elit pada tahun ini.  Skandal Bo Xilai telah menyingkap adanya kecemasan di kalangan elit.  Semua ini banyak bergantung pada bagaimana China menangani permasalahan-permasalahan itu.  Jika China menangani masalah-masalah itu dengan buruk, maka dunia akan menyaksikan kehancuran China dan bukan kemunculan China.
Hubungan-hubungan China-Amerika menciptakan kesempatan besar kepada daulah al-Khilafah di masa depan untuk mewujudkan perubahan di sejumlah medan.   Ini akan banyak bergantung pada titik sentral daulah al-Khilafah.
Sumber utama energi China datang dari Timur Tengah dan negara-negara Asia Tengah.  Ini bisa memberikan pengaruh sangat besar untuk daulah al-Khilafah dengan jalan sebagai berikut:
1.      Memaksa China untuk membuka front kedua dengan Amerika di kawasan Pasifik.  Hal itu bisa terealisasi dengan jalan mendorong China untuk mengambil kembali Taiwan, dan penyatuan semananjung Korea melalui Korea Utara.  Ini secara otomatis akan mengantarkan pada peperangan dengan Amerika.  Dengan begitu akan memberikan kesempatan kepada daulah al-Khilafah untuk membebaskan bumi-bumi kaum muslimin.
2.      Mendorong Cina untuk mengerahkan pasukan tambahan di perbatasannya dengan India, dan mengancam untuk menyerang Arunachal Pradesh dan Aksai Chin. Tujuan dari hal ini adalah agar India mengerahkan pasukannya (melawan China), untuk menghalangi India memobilisasi pasukannya menghadapi Pakistan (dengan asumsi negara Pakistan akan menjadi bagian dari daulah al-Khilafah).
3.      Mendorong Cina untuk melepaskan Dolar dan Euro yang dimilikinya dengan imbalan minyak dan gas murah. Hal ini akan menyebabkan masalah besar bagi Amerika Serikat dan Eropa, dan tentu saja akan mengakhiri dominasi ekonomi mereka.
4.      Memaksa China merubah perilakunya terhadap kaum muslimin di Turkistan Timur dan juga terhadap kaum muslimin yang hidup di bagian lain dari China.  Wilayah Turkistan Timur merupakan pintu gerbang untuk menyampaikan Islam ke China.  Pintu gerbang lainnya adalah Taiwan.  Jika Taiwan dikuasai oleh daulah al-Khilafah maka Taiwan akan menjadi semacam pengangkut pesawat yang tidak bisa ditenggelamkan dan bisa digunakan untuk mengekspos kekuatan al-Khilafah terhadap daratan China dan laut China selatan.  Hal itu masih ditambah dengan dekatnya Indonesia dan Malaysia.  Semua itu akan memberi kekuatan besar kepada daulah al-Khilafah di kawasan Asia Pasifik.[Globalmuslim.web.id]

Fenomena Lady Gaga, Zionisme Budaya, dan Tanda-tanda Munculnya Dajjal


Oleh, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
Penulis The Brain Charger


Lady Gaga
Belum lepas cobaan yang mendera umat atas kedatangan Ratu Penghina Nabi, Irshad Manji, kini umat muslim kembali akan dicoba. Tanggal 3 Juni nanti, diva Pop asal Amerika, Lady Gaga, berencana menggelar konsernya di Gelora Bung Karno, Jakarta. Penolakan demi penolakan pun kemudian lahir dari berbagai kelompok Islam merespon aksi nekat Lady Gaga tersebut. Di Jakarta, misalnya, sekelompok Umat Islam dari Gerakan Umat Anti Maksiat (GUMAM) jauh-jauh hari sudah menggelar aksi demonstrasi di Bunderan HI, Jakarta. M Ihsan Sofyan selaku Koordinator GUMAM menilai Lady Gaga adalah Robot Illuminati. Assesoris penampilan Gaga dalam setiap konsernya, secara vulgar menonjolkan lambang illuminati dan paganisme. FPI juga berpendapat sama. Mereka meminta pihak berwenang untuk ikut mencekal kedatangan Lady Gaga. FPI menilai, baik lirik maupun tampilan Lady Gaga bertentangan dengan ajaran Islam. Jadi persoalan penolakan lady Gaga tidak semata-mata faktor erostisme semata, tapi juga tuntutan akidah.



Bahkan, KH. Kholil Ridwan selaku Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya secara tegas mengatakan bahwa membeli tiket Lady Gaga adalah haram. Pimpinan Ponpes Husnayain itu menghimbau agar tiket yang sudah dibeli agar dikembalikan. “Tiket itu harus dikembalikan karena hukumnya haram. Dangdut yang budaya lokal aja haram. Yang jual tiket dan pembeli tiket juga dosa,” katanya kepada Eramuslim.com Sabtu, (17/3) dalam kapasitas pribadi selaku Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya.


Siapakah Lady Gaga?


Mungkin umat bertanya-tanya siapakah sosok Lady Gaga? Mengapa terjadi pro dan kontra begitu keras atas niatnya menginjakkan kaki di bumi Allah bernama Indonesia. Betulkah Lady Gaga adalah agen Illuminati yang sengaja disisipkan Yahudi untuk merusak akidah umat Islam?


Hati Yesus Dalam Klip Alejandro



Lahir pada 28 Maret 1986 dengan nama Stefani Joanne Angelina Germanotta, Gaga kecil memang memliki rekam jejak paganisme yang cukup kuat, tidak heran Gaga cukup mudah menerjemahkan pesan Illuminati dalam tiap konsernya. Dari awal kariernya (tahun 2005) hingga album ketiga, tidak sedikit berbagai penerjemahan konsep Teologi Illuminati hadir baik dalam video klip maupun aksi panggungnya seperti Bad Romance, Alejandro, Judas, ataupun Born This Way. Dalam video klip Alejandro, misalnya, secara terang-terangan Gaga mengkampanyekan ajaran antikristus dengan menaruh salib terbalik di (maaf) kemaluannya. Gaga pun tidak segan-segan mesti mengeluarkan waktu yang lama dalam video klipnya demi menampilkan aksi mengarak Hati Kudus Yesus pada awal-awal klip.


Gaga sendiri memang pernah menempuh pendidikan di Sekolah Convent Of The Sacred Heart. Sekolah swasta milik katolik ini menampung siswa khusus perempuan dalam jenjang TK hingga SMA.  Namun sejarah Sared Heart of Jesus sendiri jauh dari landasan imani kristiani. Ordo Sacred Heart of Jesus (Ordo Hati Kudus Yesus) justru diprakarsai oleh Alexander Pope (1688-1744) yang merujuk pada ajaran penyembahan setan dan kental dengan semangat mistisisme Kristen. Referensi tentang Hati (jantung) yang berdarah juga menyebar dalam tulisan-tulisan tokoh seperti Saint Bernard dari Clairvaux (1090-1153). St Bernard dari Clairvux adalah orang yang pertama kali meletakkan fondasi dasar bagi aturan-aturan dalam ordo Knights Templar. Seperti mengucapkan kaul (janji setia kepada Tuhan) maupun berikrar untuk tetap setia sebagai Ksatria Perang Salib. Karena itu, tidak heran seorang Ksatria Templar betul-betul akan menyerupai biarawan Cistercian dengan mengenakan jubah putih dan menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka. Namun semua itu hanyalah dalih untuk menutupi penyamaran mereka sebagai agen yang bekerja demi kepentingan paganisme.


René Guénon pencetus ajaran tradisi Primordial, dalam tulisannya The Sacred Heart and the Legend of the Holy Grail juga menyinggung teologi Sacred Heart of Jesus (Hati Kudus Yesus). Tokoh Theosofi ini mencoba melacak akar sejarah dari Hati Kudus Yesus secara lebih mendalam. Dengan mengutip tulisan pengkaji Holy Grail bernama Monsieur Charbonneau-Lassy yang berjudul The Ancient Iconography of the Heart of Jesus, Guénon mencoba menyimpulkan bahwa Hati Kudus Yesus sangat terkait erat dengan Legenda Holy Grail.


Monsieur sendiri berkeyakinan bahwa legenda Holy Grail sangat mungkin terkait dengan sejarah dari Hati Ekaristi Yesus yang hidup ketika zaman Agama Mesir Kuno. Dalam heiroglif Kuno, kata Monsiuer, gambar hati sebenarnya lebih tertuju kepada Vas (bayangkan sebuah Vas bunga tempo dulu berbentuk hati) ketimbang jantung manusia. Vas inilah yang kemudian terejawantah dalam bentuk cawan ketika peristiwa kematian Yesus yang kemudian melahirkan Holy Grail sebagai polemiknya.


Cawan Suci
Kita ketahui bersama, opini Holy Grail selama ini banyak dikembangkan oleh Yahudi untuk menggoyang Iman Kristen dan mendukung klaim atas tahta suci Vatikan. Penggambaran Maria Magdalena sebagai pasangan Yesus pun turut dipopulerkan oleh pengikut Anti-Kristus dalam beberapa dekade terakhir pada buku-buku seperti The Jesus Scroll (1972), Holy Blood, Holy Grail (1982), The Gospel According to Jesus Christ (1991), The Da Vinci Code (2003), Templar Revealation serta The Two Marys: The Hidden History of the Mother and Wife of Jesus (2007).


Terlepas dari kebenaran legenda dibaliknya, Holy Grail sudah identik dengan Maria Magdalena, istri Yesus yang selama ini coba disangkal oleh Vatikan. Bagi Vatikan, Maria adalah hanya seorang pelacur yang bertobat dan sama sekali tidak mewakili tahta Yesus pasca wafat. Namun, Dinasti Merovingian mengklaim sebaliknya. Bagi mereka, Maria Magdalena adalah istri sah Yesus dan paling berhak mewarisi Tahta Suci Vatikan. Dinasti Merovongian inilah yang kemudian akhirnya mengklaim bahwa mereka memikili hak legitimasi untuk mewakili garis keturunan Yesus.


Selain cawan suci, simbol lain dari Maria Magdalena adalah salib mawar. Lambang ini juga terekam dalam video klip Lady Gaga yang berjudul Judas. Video ini dibuka dengan adegan iring-iringan kendaraan bermotor yang merupakan representasi Last Supper dimana jumlah pengendara motor sebanyak 12 orang, ditambah Lady Gaga, menjadi 13 orang. Lady Gaga sendiri berperan sebagai  Maria Magdalena dan mengendarai motor bersama Jesus dengan mahkota berduri di kepalanya.


Namun uniknya, bisa dikata inilah video klip paling kontroversial yang pernah dibuat oleh Lady Gaga. Video Klip ini lebih tepat disebut sebagai pertarungan teologi karena betul-betul memberikan pukulan telak terhadap Iman Kristiani. Jika kita menyaksikan video ini, maka kita akan dapati bahwa Adegan per adegan Judas menyiratkan “pengkhianatan” Maria Magdalena kepada Yesus dengan memberikan ruang Judas (Iskariot) untuk masuk dalam sela hatinya, padahal Judas tidak lain adalah pengkhianat Yesus itu sendiri.


Karenanya, jika kita cermati lebih mendalam, Lady Gaga lebih tepat disebut sebagai sebuah personifikasi perlawanan terhadap dogma Kristen. Ia tidak berdiri di atas kaki Vatikan maupun Merovingian, tetapi ia berdiri diatas kaki sendiri yang tidak lepas dari misi Yahudi. “I’m just a Holy fool, oh baby he’s so cruel, but i’m still in love with Judas, baby,”  katanya memposisikan diri sebagai Tuhan dan sebuah prophecy bahwa Tuhan akan tunduk pada Lucifer. Mengerikan.


Lady Gaga dan Skenario Zionisme Budaya


Kendati penolakan demi penolakan terus hadir merespon konser Lady Gaga, tetap membuat para pendukung Lady Gaga pantang mundur. Pernyataan Haram yang dilontarkan oleh Kyai Kholil Ridwan pun direspon dengan caci maki. Tidak sedikit dari mereka adalah remaja yang tidak lagi menganggap orangtua dan ulama sebagai panutannya. Bahkan mereka berani menantang siapapun penolak konser Lady Gaga dengan stigma dinding penghalang kebebasan berekspresi. "Gue sudah bosan kalau Lady Gaga dicap aneh-aneh. Sebagai fan base Lady Gaga, kita punya argumen freedom of expression," kata fans Lady Gaga, Giat (19) seperti dilansir situs detik.com, Kamis (17/5).


Giat yang berjuang demi mendapatkan tiket Lady Gaga dengan antre satu hari sebelumnya ini pun sangat kecewa bila konser batal digelar. Bagi dia dan semua fans Lady Gaga, setiap orang tentu punya hak untuk berekspresi. Dia pun meminta agar pihak-pihak yang lain menghormati hak fans Lady Gaga untuk berekspresi.


Sungguh fenomena ini sangat menyedihkan. Sebagai negara mayoritas Islam, akidah umat telah jauh terperosok. Lady Gaga dibela, sedangkan ulama dihina. Inilah dampak dari sebuah bangunan Negara yang tidak dipimpin oleh hukum Allah dan membiarkan kerusakan lambat laun menggerogoti sendi akidah masyarakatnya dengan menjadikan hukum buatan manusia sebagai pilarnya.


Jika kita telusuri lebih jauh, kelompok  Zionisme Yahudi memang begitu menyadari jika perjuangan politik tidak akan bisa dilakukan tanpa ditopang oleh upaya lainnya. Tak terkecuali budaya. Inilah yang sempat disoroti Prof Abdul Rahman H. Habanakah dalam bukunya Metode Merusak Akhlak Dari Barat. Beliau menegaskan salah satu sarana ampuh yang dipakai Yahudi untuk memerosotkan akhlak muslim adalah dengan menenggelamkan kaum muslimin ke dalam lingkungan yang buruk. Untuk merealisasikan tujuan itu, mereka menggunakan berbagai unsur seperti harta, wanita, hukum, kekuasaan, kemewahan sampai permainan dan seni pertunjukkan. Lebih jauh beliau menjelaskan,


“Yang paling penting dalam hal ini ialah seni tentang kecantikan, metode dan pesona wanita terhadap kaum laki-laki. Dalam hal ini mereka mempergunakan sarana-sarana seperti: bioskop, sandiwara, drama, menulis berbagai macam cerita, sejarah psikologi, masalah-masalah sosial dan sebagainya. Juga sarana-sarana seperti: majalah, surat kabar, radio, televisi, video cassete, dab bermacam-macam saranan periklanan dan reklame.


“Merekalah yang memegang kekuasaan untuk ikut menentukan dan mengatur acaranya. Kalaupun ada (yang baik, pen.) terlalu sedikit, atau hanya dimintai bantuan apabila ada kerusakan atau ketika menghadapi masa kritis.”


Buku Henry Ford
Henry Ford, pebisnis Amerika yang menghabiskan hampir setengah hidupnya untuk menyadarkan Amerika dari bahaya Yahudi menjelaskan dengan baik bagaimana budaya telah ditanamkan kelompok Zionisme guna mewujudkan misinya. Dalam buku monumentalnya, The International Jew, dikatakan bahwa teater/seni pertunjukan adalah bagian tak terpisahkan dari Yahudi untuk menyetir selera publik dan memengaruhi cara berpikir masyarakat. Teater dan seni pertunjukkan tidak hanya diberi sebuah tempat istimewa dalam Protocol of Zion, tapi juga telah dijadikan teman setia di setiap malam dan pekan. Lebih jauh, Henry Ford menjelaskan:


“Begitu kaum Yahudi memegang kendali atas minuman keras Amerika, maka kita menghadapi masalah minuman keras dengan konsekuensi drastis. Begitu kaum Yahudi memegang kendali atas ‘film bioskop’, kita menghadapi masalah dengan film dan konsekuensinya yang sangat kentara.


“Setiap malam, ratusan ribu orang menghabiskan 2-3 jam waktu mereka di Teater; setiap hari secara harfiah jutaan orang membuang 30 menit sampai tiga jam menonton film; dan arti sebenarnya dari hal ini adalah jutaan orang Amerika setiap hari merelakan diri mereka memasuki ide-ide kehidupan, cinta, dan tenaga kerja Yahudi… Teater bukan bersifat Yahudi dalam sisi manajerialnya saja, melainkan juga kesusateraan dan profesionalnya. Sekarang semakin banyak drama yang muncul dengan penulis, produser, bintang, dan para pemain yang semuanya Yahudi.”
Buku Henry Ford sendiri kemudian dikecam oleh kelompok Yahudi. Puluhan juta kopi yang telah tersebar tidak lagi dapat ditemukan di toko-toko buku maupun perpustakaan di Amerika. Dalam catatan pengantar buku tersebut, dikisahkan berbagai upaya mencetak buku ini -yang mencapai ketebalan 1000 halaman- akhirnya hanya berujung sia-sia. Pada tahun 1952, edisi baru dari seri The International Jew yang dikumpulkan dari artikel-artikel Ford pun kembali dimusnahkan oleh kelompok Yahudi. Sedangkan cetak ulang lainnya yang dilakukan National Vanguard Books, Po. Box 90 Hillsboro WV 24946 USA juga tidak mampu lagi ditemukan. Padahal jika kita telusuri lebih jauh keterlibatan Yahudi dalam industri Film di Amerika sudah menjadi rahasia umum. Jewish Encylopedia Judaica sendiri sebagai Ensiklopedi terbaik mengenai literatur Yahudi mengakui kepenguasaan Hollywood berada di tangan Yahudi.


“Semua perusahaan besar Hollywood, kecuali United Artist, didirikan dan dikendalikan oleh orang-orang Yahudi.”


Mesin lain dalam lapangan budaya lainnya tentu adalah musik. Musik dalam doktrin zionisme tidak semata-mata sebagai bentuk hiburan, tapi juga alat mind control yang akan diterapkan kepada masyarakat. Dalam Protokol of Zion Bab 5 ayat 4 tertulis, “Selain itu, kita juga menggunakan seni untuk mengarahkan masyarakat dan individu – individu dengan teori – teori dan pernyataan yang dimanipulasi secara licik, dengan peraturan – peraturan kehidupan secara umum dan bentuk lainnya yang tidak lazim, yang semuanya tidak di pahami oleh masyarakat goyyim…”


Keshahihan Protokol of Zion sendiri hingga kini masih menyisakan kontroversi, namun terlepas daripada itu, apa yang termaktub dalam protokol tersebut sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Adalah Was Penre, tokoh Musik yang “berjasa” membesarkan musik Heavy Metal dan Rock di era 1980 hingga 1990an yang membeberkan rahasia itu. Ia mengatakan telah menjadi rahasia umum di AS bahwa siapapun yang ingin tenar dan terkenal dalam jagad hiburan, maka ia harus tunduk dan mau bekerja sebagai agen dari illuminati, atau setidaknya mau diajak bekerja sama, dengan sadar atau tidak. “Untuk mendaftar sebagai musisi untuk Perusahaan Rekaman besar, Anda harus bersedia untuk bekerja ke arah Agenda mereka, yang akhirnya memperoleh kontrol penuh atas populasi masyarakat dunia,” tegasnya seperti dikutip dalam situsnya Illuminaty News.com.


Penre mengetahui hal tersebut karena memang pernah terlibat sebagai komposer musik di beberapa perusahaan rekaman besar di Amerika. Ia mengaku heran bagaimana lagu-lagu ciptaannya yang mengandung pujian kepada tuhan, kedamaian, dan bentuk cinta kepada keluarga tidak diterima di perusahaan tersebut. Sebaliknya lagu-lagu yang bertemakan seks, pemujaan syaitan, penghinaan kepada semua agama, serata peperangan malah lulus untuk diterbitkan dalam album kumpulan rock. Naudzubillahi Min Dzalik.


Promosi Dajjal dan Tanda-tanda Kedatangannya


Sungguh penulis begitu khawatir, fenomena umat muslim masuk ke liang biawak Yahudi sudah terang benderang terjadi. Umat Muslim saat ini seperti sudah meninggalkan petuah agamanya dan menganggap remeh urusan akidah. Tidak sedikit umat muslim menganggap enteng perkara tauhid dengan menyembunyikan kebanggaannya sebagai muslim dalam hal syariat Islam demi urusan kekuasaan, jabatan, tahta, maupun nafsu semata.


Sejatinya beberapa klip Video Gaga juga tidak lepas dari promosi untuk menyambut kemuncullan puncak fitnah ini. Hal ini dapat terlihat bahwa dimanapun Konser Lady Gaga berlangsung, mereka selalu didampingi beberapa penari latar seperti robot yang siap mengikuti apapun perintah Tuannya. Satu persatu penari latar itupun berdiri berjejer melindungi Lady Gaga dalam tiap aksinya. Mereka berpakaian sama, berpenampilan sama, bahkan hingga membentuk potongan rambut yang sama.


Sungguh cobaan umat Islam saat ini begitu berat. Bahwa kita sekarang memang dituntut untuk memperkuat tauhid untuk mempersiapkan puncak fitnah yang akan terjadi. Baru-baru ini, seperti kita ketahui bersama, sebuah kabar yang sangat penting untuk Umat Islam datang dari Israel. Fenomena alam menunjukkan telah terjadi perubahan kuantitas air dari Danau Tiberias yang merupakan sumber utama air bersih bagi bangsa Yahudi dan pemerintah Zionis Israel.


Grafik Tiberias



Ustadz Ihsan Tanjung dalam artikelnya Keluarnya Ad-Dajjal Dan Mengeringnya Danau Tiberias menyoroti dengan serius kenyataan menipisnya sumber mata air di Israel tersebut. Beliau mengingatkan bahwa mungkin saja untuk sebagian orang, informasi ini dianggap tidak penting bahkan tidak menjadi urusannya. Tapi bagi setiap muslim-mukmin yang peduli dengan tanda-tanda Akhir Zaman informasi ini sangat berharga dan sangat serius. Mengapa? Karena dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat kata “Danau Tiberias”. Dan hadits tersebut berkaitan erat dengan bakal keluarnya fitnah paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah al-Masih Ad-Dajjal!


Sebuah Hadits yang sangat panjang mengisahkan bagaimana seorang pelaut Arab Nasrani bernama Tamim Ad-Dari bersama 30 orang awak kapalnya terdampar di sebuah pulau. Akan tetapi sebuah pemandangan mengejutkan menghampiri mereka tatkala mereka berjumpa dengan seorang lelaki yang menurutnya digambarkan sebagai ”orang terbesar yang pernah kami lihat, paling kuat dan tangannya terbelenggu di leher, antara lutut dan mata kakinya terbelenggu besi”. Lalu terjadi dialog antara Tamim Ad-Dari dengan lelaki misterius yang ternyata adalah Al-Masih Ad-Dajjal. Simaklah dialog berikut ini:


Ia berkata: Beritahukan padaku tentang kurma Baisan. Kami bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia berkata: Aku bertanya pada kalian tentang kurmanya, apakah sudah berbuah? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Ingat, ia hampir tidak membuahkan lagi. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang danau Thabari (Tiberias). Kami bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia menjawab: Apakah ada airnya? Mereka menjawab: Airnya banyak. Ia berkata: Ingat, airnya hampir akan habis. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang mata air Zughar. Mereka bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia berkata: Apakah disana ada airnya dan apakah penduduknya bercocok tanam dengan air itu? Kami menjawab: Ya, airnya banyak dan penduduknya bercocok tanam dengan air itu. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang Nabi orang-orang buta huruf, bagaimana keadaannya? Mereka menjawab: Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib. Ia bertanya: Apakah orang-orang arab memeranginya? Kami menjawab: Ya. Ia bertanya: Apa yang mereka lakukan terhadapnya? Lalu kami memberitahunya bahwa beliau menang atas bangsa arab di sebelahnya dan mereka menaatinya. Ia bertanya pada mereka: Itu sudah terjadi? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Ingat, sesungguhnya itu baik bagi mereka untuk menaatinya. Aku akan beritahukan pada kalian siapa aku. Aku adalah Al Masih (Ad-Dajjal) dan aku sudah hampir diizinkan untuk keluar lalu aku akan keluar.” (HR MUSLIM - 5235)
Akankah kedatangan Lady Gaga memang adalah bagian dari aksi "teatrikal" untuk mempersiapkan ini semua? Cepat atau lambat semua akan terjawab. Inilah akhir zaman. Allahua’lam. [www.globalmuslim.web.id]

Sejarah Umat Islam Indonesia, Sejarah Perjuangan Syariah dan Khilafah!


sejarah+khilafah+nusantara.jpg (400×231)
Sudah menjadi rahasia umum di antara orang/pejabat Belanda bahwa banyak sultan di Indonesia memberikan baiat (sumpah kesetiaan dan kepatuhan)-nya kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif membuat kaum Muslim menjadi warga negara Khilafah (Negara Islam).
Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. KoranSumatera Post menulis tentang ini pad` tahun 1922, “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”
Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mdreka melawan Belanda. Sebagaimana yang diakui Koran Sumatra Post tahun 1922: “Pada hari ini, serangan-serangan atas kami menjadi hal penting karena merupakan sikap mentalitas atas ide Perang Suci (jihad fi sabilillah, pen.)“.
Khalifah juga mengirimkan perwakilannya ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim. Koran Het Nieuws van den Dag, misalnya, melaporkan tentang seorang konsul dari Khalifah di Batavia bahwa dia mendukung gerakan mengembalikan Islam (Khilafah, pen.): “Di Indonesia hanya ada satu konsul, yakni di Batavia, dan dia telah menunjukkan antusiasme yang besar bagi gerakan mengembalikan Islam. Oleh karena itu, pemerintah memintanya untuk diganti.”
Koran yang sama menginformasikan kepada pembacanya pada tahun 1912 bahwa Khalifah mengirimkan misi rahasia ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim Indonesia, “Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai Belanda, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak kepada penjajah).”
Begitulah suasana dan semangat perjuangan para tokoh Islam pada masa pendudukan penjajah Belanda untuk mengembalikan syariah Islam dalam ranah politik. Apa yang ditulis oleh koran-koran pada waktu itu, baik koran lokal Indonesia maupun koran yang terbit di Belanda, ternyata secara gamblang menunjukkan bahwa pada masa pendudukan penjajah Belanda telah terjalin hubungan yang baik bangsa Nusantara dengan Khilafah Turki Utsmani. Bukan hanya hubungan ‘pertemanan’ namun lebih dari itu yakni hubungan ‘kenegaraan’. Oleh karena itu, perjuangan formalisasi syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan bukanlah perjuangan individual para tokoh-tokoh, namun merupakan perjuangan yang di- back up langsung oleh institusi Khilafah di Turki saat itu.
Pasca Khilafah Ustmani hancur pada tahun 1924, perjuangan untuk mengembalikan Khilafah berlangsung di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dr. Deliar Noer menulis bahwa penghapusan Kekhalifahan di Turki menimbulkan kebingungan di Dunia Islam pada umumnya, yang mulai berpikir tentang pembentukan suatu kekhilafahan baru. Masyarakat Islam Indonesia bukan saja berminat dalam masalah ini, malah merasa berkewajiban memperbincangkan dan mencari penyelesaiannya. Kebetulan Mesir bermaksud mengadakan kongres tentang Khilafah pada bulan Maret 1924. Sebagai sambutan atas maksud ini, dibuatlah Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarekat Islam dan wakil ketua KHA Wahab Hasbullah. Guliran usul ini selanjutnya diperkuat dalam Kongres Al-Islam ketiga di Surabaya bulan Desember 1924, yang antara lain memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Kongres Kairo, terdiri dari Surjopranoto (Sarekat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah) serta KHA Wahab dari kalangan tradisi.1
Pada kongres Al-Islam di Bandung yang sejatinya hanya memperkuat keputusan rapat di Cianjur, KH Abdul Wahab Hasbullah, atas nama kalangan tradisi, mengajukan usul agar kebiasaan-kebiasaan agama seperti membangun kuburan, membaca doa seperti dalail al-khairat, ajaranmazhab, dihormati oleh kepala negeri Arab yang baru dalam negaranya, termasuk di Makkah dan Madinah. Karena terdapat ‘friksi’ dalam masalah inilah maka kalangan ‘pembaru’ yang lebih dominan dalam Kongres Al-Islam di Bandung ini tidak menyambut baik usul-usul KH Abdul Wahab Hasbullah ini. Akhirnya, beliau dan tiga orang pendukungnya keluar dari Komite Khilafah tersebut di atas.
KH Wahab selanjutnya mengambil inisiatif mengundang dan mengajak para ulama-ulama yang beliau kenal seperti dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, Pati dan masih banyak lagi untuk diajak rapat-rapat membahas masalah hancurnya Khilafah. Dalam rapat-rapat tersebut dihasilkan keputusan bahwa mereka bersepakat untuk mendirikan suatu panitia yang disebut Komite Merembuk Hijaz. Komite inilah yang diubah menjadi Nahdlatul Ulama pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 Januari 1926. Dalam Rapat itu pula diputuskan untuk tetap konsisten menempatkan masalah Hijaz [penegakan kembali Khilafah] sebagai pokok pembicaran utama.2
Perjuangan mengembalikan syariah dan Khilafah ternyata bukan hanya dilakukan oleh KH Wahab semata, tetapi hampir seluruh tokoh Islam. Spirit perjuangan sebagian besar dari mereka adalah memperjuangkan formalisasi syariah Islam walau ada yang tidak secara ‘tegas’ menyatakan Khilafah. Sebut saja Hadji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto. Beliau secara gigih memperjuangkan agar syariah Islam dijadikan sebagai sumber hukum dalam bernegara. Tatkala HOS Cokroaminoto melihat rakyat yang tertindas oleh penjajah kolonial Belanda secara ekonomi dan politik, beliau pun ‘mengejawantahkan’ kegundahan hatinya melalui statemen, “Negara dan bangsa kita tidak akan mencapai kehidupan yang adil dan makmur, pergaulan hidup yang aman dan tenteram selama ajaran-ajaran Islam belum dapat berlaku atau dilakukan menjadi hukum dalam negara kita, sekalipun sudah merdeka.”3
Beliau juga mengatakan bahwa saat itu telah terjadi jahiliah modern. “Kalau alat-alat Pemerintah RI yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak pejabat sampai bawahan, sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya. Sebab segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suap dan sebagainya yang secara terang-terangan merugikan negara dilakukan dengan aman oleh mereka, rakyat yang menjadi korban.”4
Apa yang disampaikan oleh Cokroaminoto tampak jelas bahwa syariah Islam dijadikan sebagai landasan pikiran, perasaan dan hatinya.
Oemar Said juga menyatakan, “Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu hanyalah bisa tercipta karena ‘tauhid’ saja. Tegasnya menetapkan lahir batin: tidak ada sesembahan melainkan Allah saja.”5
Muhammad Natsir pun melakukan hal serupa. Berbicara tentang Muhammad Natsir sejatinya tidak bisa dilepaskan dengan perjuangan syariah Islam di Indonesia. Natsir menganggap bahwa agama dan negara harus dipersatukan dalam semangat untuk menegak-kan hukum Allah.6 Artinya, tidak ada pemisa-han antara Islam dan negara. Bahkan Natsir menegaskan bahwa Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual Muslim yang sempit, tetapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara.7
Muhammad Natsir memahami bahwa tugas seorang pemimpin adalah memastikan bahwa hukum-hukum Allah dapat dijalankan dengan baik. Syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin Negara Islam adalah agamanya, sifat dan tabiatnya serta akhlak dan kecakapannya untuk memegang kekuasaan yang diberikan kepadanya; bukan bangsa, keturunannya ataupun semata-mata karena kapasitas intelektualnya. Islam tidak mengenal lembaga ‘Kepala Agama’ seperti Paus dalam tradisi Katolik. Islam hanya mengenal satu ‘Kepala Agama’, yakni Muhammad Rasulullah saw. Rasulullah Muhammad sudah wafat dan tidak ada gantinya lagi untuk selama-lamanya. Rasulullah saw. sebagai kepala agama telah meninggalkan satu sistem yang bernama Islam, yang harus dijaga dan dipelihara oleh kaum Muslim. Sistem ini juga harus dijalankan oleh ‘kepala-kepala pemerintahan’ apapun gelarnya, seperti khalifah, amir dan lain sebagainya yang memegang kekuasaan dalam kenegaraan kaum Muslim. Dia mengambil contoh bahwa para Sahabat Nabi saw. yang pernah menjadi khalifah sesudah beliau seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali tidaklah merangkap jadi ‘Kepala Agama’. Mereka itu hanyalah ‘kepala pemerintahan’ yang menjadikan pemerintahannya menurut aturan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad. Negara, oleh karena itu, bukan merupakan tujuan Islam, tetapi sebagai sarana untuk menegakkan Islam dan merealisasikan aturan-aturan Ilahi yang terdapat dalam al-Quran dan Sunnah.8
Aturan-aturan tersebut lengkap mulai dari sistem pemerintahan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pergaulan dan sistem-sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan lainnya. Karena itu, negara berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan kesempurnaan berlakunya hukum ilahi, baik yang berkenaan dengan kehidupan manusia sendiri ataupun sebagai anggota masyarakat dalam sebuah negara.
Pergulatan untuk menjadikan syariah Islam sebagai dasar negara tidaklah mudah. Kekuatan-kekuatan yang tidak menginginkan tegaknya syariah Islam berusaha menghadang setiap langkah Natsir di Parlemen. Hal ini bisa tercermin dalam perdebatan di Konstituante pada masa itu. Dalam sidang Konstituante tatkala membahas tentang dasar negara, Natsir secara tegas menjelaskan perbedaan pokok sekularisme dengan Islam. Menurut Natsir, sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan dan sikap yang hanya di dalam batas keduniaan. “Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia, semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang belaka,” ujar M. Natsir.9
Demikian juga yang dilakukan oleh Ki Bagus Hadikusumo, salah satu tokoh Muhammadiyah. Beliau cukup lantang meneriakkan syariah Islam. Beliau memberikan antitesis atas ‘Lima Prinsip Dasar’ yang kemudian dikenal dengan Pancasila yang diajukan oleh Sukarno-Yamin dengan mengajukan pendapat ‘Islam Sebagai Dasar Negara’10 dalam sidang-sidang di BPUPKI. Bahkan, seperti dikutip dalam buku R.M.A.B Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidik Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan, Ki Bagus Hadikusumo lebih tegas lagi meminta kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” ditiadakan sehingga berbunyi: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.”
Artinya, dalam pandangan Ki Bagus, syariah Islam harus berlaku secara umum di Indonesia.
Tatkala perdebatan mengenai kepala negara, salah satu peserta sidang, Kiai Masykur mempdrtanyakan dengan nada retorika: “…Kalau dalam Republik Indonesia ada kewajiban menjalankan syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya, padahal Republik Indonesia dikepalai oleh orang beragama lain daripada Islam, umpamanya, apakah keadaan itu dapat dijalankan dengan baik? Dan apakah umumnya golongan Islam dapat menerimanya dan apakah demikian itu tidak jahat?
Statemen ini membuat sidang BPUPKI menjadi tegang. Ketegangan semakin memuncak tatkala Tuan Abdul Kahar Moezakir mengajukan pendapatnya untuk mempertegas pendapat Kiai Masykur. Ia bahkan sampai menggebrak meja.
Selanjutnya, apa yang disampaikan oleh Tuan Abdul Kahar Moezakir ini didukung penuh oleh Ki Bagus Hadikusumo. Beliau menegaskan: “Saya berlindung kepada Allah terhadap setan yang merusak. Tuan-tuan, dengan pendek sudah kerap kali diterangkan di sini bahwa Islam itu mengandung ideologi negara. Maka tidak bisa negara dipisahkan dari Islam. Jadi saya menyetujui usul Tuan Abdul Kahar Moezakir tadi; kalau ideologi Islam tidak diterima, (saya) tidak terima! Jadi nyata negara ini tidak berdiri di atas agama Islam dan negara akan netral.”11
Kiai Haji Ahmad Dahlan juga melakukan hal serupa. Beliau menyerukan kepada masyarakat dan para pemimpin bangsa untuk kembali pada syariah Islam. Menurut murid beliau, HR Hadjid, tentang KH Ahmad Dahlan bahwa dalam menggerakkan masyarakat untuk beramal dan berorganisasi KH Ahmad Dahlan berpegang pada prinsip yaitu senantiasa mempertang-gungjawabkan tindakan kepada Allah.12 Ini berarti bahwa setiap tindakan manusia hendaknya senantiasa merujuk pada ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam bentuk syariah-Nya. Seruan terikat pada syariah Allah ini bukan hanya ditujukan kepada masyarakat awam, namun juga diserukan kepada para pengambil keputusan (penguasa). KH Ahmad Dahlan menyerukan perlunya setiap pemimpin menambah terus ilmu (Islam, red.) sehingga bijaksana dalam mengambil keputusan dan perlunya dilakukan perubahan untuk menuju keadaan lebih baik.13
Selain itu, cita-cita KH Ahmad Dahlan sebenarnya adalah ingin menumbuhkan masyarakat Islam. Maksud masyarakat Islam ini adalah masyarakat yang berkarakter Islam dengan pola sunah Muhammad saw. Mendidik masyarakat supaya terjadi perubahan perilaku menjadi berkarakter Islam dengan kesadaran dan ilmu, bukan dengan paksaan atau kekerasan. Sebagaimana yang dijalankan Muhammad saw (Sunnah).14
Walhasil, dari paparan di atas nampak jelas bahwa sejak awal Bumi Nusantara punya hubungan erat dengan Khilafah. Tatkala Khilafh Utsmaniyah tumbang, para pemuka Islam di Nusantara berlomba-lomba untuk berkontri-busi dalam mengembalikan tegaknya Khilafah, termasuk di dalamnya perjuangan untuk menjadikan syariah Islam menjadi dasar dan sumber hukum di negeri ini pada saat awal-awal pebentukan negara Indonesia.
Karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa perjuangan mengembalikan syariah Islam disebut ahistoris maka sejatinya dialah yang ahistoris. Fakta memperlihatkan sebaliknya. Bahkan perjuangan mereka justru dengan kesungguhan dan penuh dengan pengorbanan. Semoga kita bisa menjadi penerus perjuangan mereka dengan penuh ikhlas. Insya Allah.
WalLahu a’lam bi ash-shawwab. [Gus Uwik]
Catatan kaki:
1 Deliar Noer, Bendera Islam, Jakarta, 22 Januari 1925
2 Deliar Noer, ibid, hlm. 243, mengutip Utusan Nahdlatul Ulama, Tahun I No. I (1 Rajab 1347H; yaitu 14 Desember 1928), hal 9.
3 Amelz, 1952, h. 2 dalam Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara, Salamadani Pustaka Semesta, 2009.
4 Petikan kata Wondoamiseno, Sekjen PSSI 1950
5 Amelz, 1952, h. 2 dalam Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara, Salamadani Pustaka Semesta, 2009.
http://www.rahmatan.org/artikel/mengingat-sejarah/29-muhammad-natsir-pejuang-islam-kontemporer.
7 Ningsih dalam http://www.pks-jaksel.or.id/Article133.phtml
8 http://www.rahmatan.org/artikel/mengingat-sejarah/29-muhammad-natsir-pejuang-islam-kontemporer.
9 Adian Husaini, “Pesan Terakhir Hussein Umar: Puisi Hamka untuk Natsir,” dalam www.swaramuslim.net
10 Syafi’i Maarif, Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965, Jakarta, GIP, 1996.
11 Ibid.
12 Sofaat Rahmat Selamet, S. Hum, Pemikiran dan Cita-Cita KH Ahmad Dahlan
13 Sofaat Rahmat Selamet, S. Hum, Ibid.
14 Ahmad Mansur Suryanegara, Prof. Filsafat Sejarah (Makalah Mata Kuliah), Jurusan SPI Fak.Adab IAIN SGD, Bandung, 2003

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...