Pages

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang & persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kamis, 05 Januari 2012

UU Liberal Sumber Konflik Dan Kekerasan Negara

[Al Islam 588] Akhir tahun 2011 lalu dihiasi dengan mencuatnya konflik dan kekerasan yang terjadi di Mesuji dan di Bima NTB. Sejumlah korban baik tewas, luka berat atau luka ringan terjadi di kedua konflik dan kekerasan itu.
Negara dengan Banyak Konflik dan Kekerasan
Fenomena konflik sosial politik di Indonesia sejak masa reformasi menunjukkan intensitas yang semakin tinggi. Dany Yuda Saputra, Dian Yanuardi dan Muntaza dari Institut Titian Perdamaian (2010) menginventarisir, total insiden pada tahun 2009 sebanyak 600 insiden, sementara sampai pertengahan tahun 2010 telah terjadi 752 insiden. Disamping dua jenis insiden terbesar yakni tawuran dan penghakiman massa, konflik dan kekerasan terbanyak berikutnya berupa konflik politik terutama konflik pemilu kepada daerah (74 kasus tahun 2009 dan 117 kasus sampai pertengahan 2010), konflik sumberdaya alam (54 kasus tahun 2009 dan 74 kasus tahun 2010) dan konflik

Setelah kekalahannya di Irak dan Afghanistan, Obama menulis ulang strategi pertahanannya



WASHINGTON – Obama menulis ulang strategi pertahanan untuk menyerap ratusan miliar dollar dalam pemotongan anggaran pertahanan walaupun di masa lampau Pentagon menyatakan siap untuk melaksanakan dua perang secara bersamaan.
Menggarisbawahi perdebatan dimensi politik Washington terkait simpanan pertahanan, Obama membuat penampilan langka di Pentagon pada Kamis (5/1/2012) untuk menjelaskan strategi baru.  Administrasi Obama mengatakan anggaran ketat adalah suatu keharusan tetapi tidak akan datang pada biaya menguras kekuatan militer dalam transisi

Ustadz Fadzlan: Insya Allah Kepala Suku Besar di Asmat Akan Masuk Islam



381045_10150457534042341_130268727340_9164220_1669819538_n.jpg (465×625)


Kabar gembira datang dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Di tengah memanasnya suhu politik Papua akibat ulah segelintir orang OPM, ternyata dakwah Islam terus menggeliat di bumi Nuu Waar.

Adalah Ketua Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadzlan Garamatan yang menyampaikan kabar bahagia itu. Kepada Suara Islam Online, Rabu (28/12/2011), Ustadz Fadzlan mengabarkan bahwa tanggal 17 Januari 2012 nanti seorang kepala suku besar Asmat akan masuk Islam. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

"Di Nuu Waar, kalau sudah masuk Islam itu baru merdeka yang sesungguhnya", kata lelaki kelahiran Patipi, Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu.

Tentu masuknya kepala suku itu akan diikuti oleh warganya. Berapa jumlah mereka?. "Tim kami masih menginvetarisir. Insya Allah nanti

Renungan : Untuk Apa Saya Hidup Di Dunia ?


H.Harry Mukti

” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56)
Pertanyaan penting yang kedua adalah untuk apa hidup. Mencari arti hidup adalah sangat penting. Siapapun yang tidak memiliki misi hidup, hidupnya akan terombang-ambing, tidak jelas, dan dipastikan tidak berarti. Hanya mereka yang memiliki misi hiduplah yang akan berarti dalam hidup, berarti buat dirinya , juga buat orang lain. Manusia tanpa misi bagaikan hewan , yang hanya hidup , karenya nyawanya ada. Hidup hewan tidak lebih berputar sekitar lahir, makan, cari makan, seksual, melahirkan

Menjawab Hujatan Kristen di Madura 2: Tuhan Yang Maha Teroris?


Buku kristenisasi berwajah Islam berjudul “Yang Haq dan Yang Batil” yang dilaporkan Rauf Al-Jihadi dari Pamekasan Madura ini hanya mengandalkan tudingan bombastis. Setelah menuding Allah yang disembah umat Islam sebagai Tuhan yang Maha Penipu, pada halaman 23 misionaris menuduh Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Teroris. Perhatikan kutipannya:
“Allah Penteror atau Teroris; biasa menjatuhkan ketakutan

Mualaf: Kim: Islam Mengisi Kekosongan Jiwanya


Sebut saja namanya Kim. Ia dibesarkan dalam keluarga yang membenci agama, terutama agama Katolik. Kim masih ingat cerita ibunya bahwa ketika ibunya masih usia anak-anak, ada tradisi memberi penghormatan dengan membungkukan badan jika ada seorang pendeta yang lewat. Tapi kedua orangtua ibunya--kakek nenek Kim--tidak pernah mau melakukan itu jika ada pendeta yang lewat di dekat mereka.

"Karena mereka tidak mau membungkuk pada siapa pun," ujar Kim menirukan perkataan ibunya.
Namun ibu Kim selalu tertarik dengan agama lain, khususnya agama Islam. Meski menurut Kim, ketertarikan ibunya bukan karena ia percaya pada Tuhan, tapi karena ia sedang

POLITIK EKONOMI ISLAM UNTUK PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN BEBAS BIAYA



Oleh: Hj Nida Sa’adah SE,AK (Muslimah HTI)

Pendahuluan
            Ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal di kepala banyak orang sekarang ini, mengapa dahulu umat Muslim bisa begitu maju dan jauh mengungguli bangsa lain dalam hal ilmu pengetahuan? Mengapa sekarang keadaannya menjadi terbalik? Adakah sesuatu yang salah?  
            Semenjak kebijakan komersialisasi pendidikan diterapkan, pendidikan semakin diposisikan sebagai sebuah komoditas jasa bagi orang yang sanggup membayar. Di Indonesia perubahan ini dapat ditengarai dengan semakin mahalnya harga pendidikan dan semakin susahnya pendidikan diakses oleh orang kebanyakan. Namun, terjadi kesalahan yang fundamental saat komersialisasi ini

Generasi Pragmatis : Akibat Sistem Pendidikan Miskin Visi


Generasi Pragmatis : Akibat Sistem Pendidikan Miskin Visi

Oleh: Isnaeni
Universitas Airlangga
 

                Selama bumi dengan segala kehidupannya masih eksis, pasti akan kita jumpai wujud kelompok-kelompok yang komitmen memperjuangkan terciptanya bangsa yang besar, sebagai tonggak sebuah Negara. Salah satu elemen bangsa yang merupakan core kekuatan suatu Negara adalah generasi muda, sehingga kebesaran suatu bangsa dapat dicirikan oleh kualitas generasi mudanya. Generasi yang dilahirkana oleh suatu negara dengan kepribadian unggul dalam konteks memahami keberadaan dirinya sebagai mahluk ciptaan Allah dengan tugas pokok menjalankan ibadah selama hidupnya, akan menciptakan generasi pemimpin yang luar biasa tangguhnya. Terkait dengan kualifikasi tersebut, setiap negara pasti akan memiliki ciri yang spesifik tergatung pada pola pemerintahan yang dianutnya. Negara Islam pasti memiliki pola yang berbeda dengan negara sekuler dalam menyiapkan generasinya untuk mewujudkan bangsa yang besar, karena tolok ukur dan value yang hendak diraih juga berbeda. Versi islam dalam mencirikan Negara yang besar adalah Negara yang memiliki komitmen tinggi untuk merealisasikan rahmatan lil ‘alamin dan ini hanya dapat dicapai dengan dukungan para generasi yang shaleh, bertaqwa kepada Allah SWT, yang memahami, menyadari dan melaksanakan tanggung jawabnya kepada Allah, Rasul, dan seluruh kaum muslimin sebagai refleksi hablum minallah wa hablum minannas. Generasi yang memiliki ciri seperti ini insya Allah akan senantiasa mengemban dakwah Islam untuk mengembalikan kemuliaan Islam

POLITIK ISLAM MENGARAHKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG MELAHIRKAN GENERASI VISIONER



Oleh : Zidniy Sa’adah, M.Si


I.            VISI POLITIK ISLAM : PENDIDIKAN INVESTASI TERBESAR BAGI PERADABAN  
Allah SWT telah sebenarnya menetapkan bahwa kualitas generasi yang dihasilkan dari proses pendidikan di dalam Islam adalah generasi yang secara individual berkualitas Ulul Albab dan secara generasi berkualitas Khoiru Ummah. Kualitas generasi seperti ini kelak akan mampu memimpin bangsanya menjadi bangsa besar, kuat dan terdepan, bahkan akan mampu menghantarkan bangsanya menjadi pemimpin peradaban dan perkembangan teknologi dunia.
Jauh sebelum kebangkitan Eropa dan kebangkitan Amerika, kaum muslim dengan peradabannya telah berjaya memimpin peradaban dan perkembangan teknologi dunia selama 13 abad. Tidak ada kejayaan bangsa manapun yang dapat bertahan selama itu. Hunke dan Al – Faruqi dengan cukup baik melukiskan latar belakang masyarakat Islam di

Komodifikasi Pendidikan Indonesia :Konsekuensi Ekonomi Neoliberal



Caria Ningsih, SE, MSi
(Dosen Ekonomi, & Pengurus Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam,
Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia)

Dunia pendidikan Indonesia seolah mendapat ‘angin surga’ atas putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI I 2008, tentang bahwasannya pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Pemerintah pun segera merespon keputusan MK tersebut. APBN 2011, anggaran pendidikan sebesar Rp 225,2 triliun atau 20% dari APBN.
Namun faktanya peningkatan anggaran pendidikan pada APBN 2011 tidak mampu menghilangkan ‘nuansa’ liberalisasi maupun komersialisasi (komodifikasi) pendidikan Indonesia.UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, Pasal 53 UU Sisdiknas yang memerintahkan agar penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Walapun UU BHP telah dibatalkan oleh MK, namun sekarang bergulir RUU PT yang memiliki semangat yang sama, yaitu otonomi lembaga pendidikan. Akuntabilitas, transparansi serta efisiensi birokrasi dianggap sebagai solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia, yang dinilai bersumber dari inefisiensi birokrasi. Namun di balik itu semua, berubahnya bentuk institusi pendidikan menjadi Badan Hukum akan mengeliminasi penjaminan Negara terhadap masyarakat dalam memperoleh pendidikan. Hal ini merupakan penyelewengan terhadap tujuan dan filosofi

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...