Pages

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang & persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Sabtu, 24 September 2011

Akibat Ketidakadilan dan Kesenjangan Sosial


Pasca penandatanganan Perjanjian Damai Maluku di Malino (12/2/2002) kerusuhan Ambon sejak 1999 terhenti. Namun ternyata itu bukan perdamaian abadi. Terbukti rusuh kembali terjadi hanya karena meninggalnya seorang tukang ojek. Menariknya, salah seorang deklarator perjanjian Malino, Yusuf Kalla, Menko Kesra saat itu, menyatakan saat ini kerusuhan dengan mudah bisa terjadi di berbagai negara mana saja bukan hanya di Indonesia. Apa sebabnya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla berikut ini.

Ambon kembali membara...
Kan sudah padam. Meletus sehari, dua hari, tiga hari.

Meski sudah padam, tapi tidak ada jaminan tidak akan meletus lagi kan?
Iya. Karena sekarang ini kerusuhan bisa terjadi di mana-mana akibat kecanggihan teknologi. Sebab kerusuhan di Ambon itu sebenarnya ialah rumor yang tiba-tiba dikembangkan.Tapi memang yang harus diperbaiki di Ambon sekarang ini adalah pemukiman. Karena setelah kerusuhan 1999, terjadi segmentasi pemukiman. Ada pemukiman komunitas Islam, ada komunitas Kristen, itu ada di banyak tempat di Ambon. sehingga akibat kerusuhan 1999 sulit dinetralisir kembali itu atau harmoninya menjadi sulit. Jadi itu harus diperbaiki. Masyarakat harus lebih berhati-hati. Yang lain-lainnya, oke-oke saja.

Di Ambon, mengapa masalah kecil saja bisa menjadi masalah besar sehingga terjadi rusuh sosial?
Bukan hanya di Ambon, di mana-mana juga. Itu sebenarnya kan hanya rumor, tiba-tiba terjadi curiga.

Menurut evaluasi Anda, apakah perjanjian damai Malino II dilanggar sehingga terjadi rusuh?
Tidak ada. Itu semua sudah baik. Kerusuhan itu bisa terjadi di mana-mana. sekarang juga kan terjadi di London, Inggris. Isu yang awalnya berkembang dari sms pun bisa terjadi di Jakarta. Timbul kecurigaan, saling curiga, kok ada orang yang mati, jangan-jangan ada yang membunuh, jangan-jangan pihak ini yang membunuhnya, kemudian rusuh. Itu saja.

Mengapa bisa muncul rasa saling curiga?
Lha iya, saling curiga itu bisa terjadi di mana-mana. tetapi memang di Ambon itu lebih sensitif.

Mengapa bisa lebih sensitif?
Itu akibat segmentasi penduduk. Jadi harus diatur lagi pemukiman penduduknya.

Harus dicampur, warga Muslim dan warga Kristen?
Iya. Dulu memang sudah tercampur. Setelah 1999 lalu. terjadilah segmentasi, pengumpulan.Terjadi perpindahan-perpindahan. Pencampuran itu harus dilakukan kembali walau pun agak sulit, karena mereka sudah memiliki tanah itu, masing-masing.

Agar terjadi integrasi sosial?
Saya ulangi lagi, dulu telah terintegrasi.Terpisah setelah konflik itu, akibat mereka mengungsi ke tempat yang aman. Jadi tidak kembali ke tempat asal.

Ada pelanggaran terhadap Mallino II?
Setahu saya tidak ada. Sekali lagi, ini hanya karena isu yang berkembang tiba-tiba. Begitu saja.

Tapi kok kejadiannya tepat tanggal 11 September, berbarengan dengan peringatan sepuluh tahun runtuhnya WTC?
Ah, boleh 11, boleh 10, boleh 9. Kapan-kapan saja.

Lho, tapi mengapa bisa pas 11 September, jadi muncul kecurigaan banyak pihak bahwa ini rekayasa intelijen.
Coba, Anda sendiri yang bikin isu.Tiba-tiba Anda sendiri, curiga lagi.

Karena tanggalnya pas.
Tanggal berapa pun tidak ada artinya apa-apa.

Antisipasi untuk mencegah terulang kembali rusuh karena masalah-masalah sepele?
Warga jangan langsung percaya atas berbagai isu.Tetapi harus dicek dulu kebenarannya. Oleh karena itu pemerintah harus cepat mengklarifikasi dan cepat mengkonter isu.

Jangan seolah sebagai pemadam kebakaran saja ya?
Iya, memang saat ini pemerintah kalah cepat dengan teknologi seperti yang Anda pegang itu (ponsel, red). Dulu kan isu berkembang dari mulut ke mulut, pemerintah masih bisa ngejar. Sekarang lewat sms, cepat menyebar, bagaimana coba?

Siapa yang kirim sms, oknum intelijen kah?
Wah siapa yang tahu, semua orang bisa. Anda juga bisa!

Bagaimana agar Ambon tetap aman?
semua pihak harus kerja sama, kooperatif untuk terjadinya integrasi sosial.

Ada kemungkinan intelijen asing bermain untuk mengobok-obok Ambon?
Tidak.

Kan ada kelompok separatis RMS yang didukung Belanda.
Percaya saya tidak? Anda jangan coba-coba membikin masalah. Anda sendiri berbahaya. Jadi tidak ada itu.

Walau hanya kemungkinan?
Tidak ada. Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada! Jangan mencoba-coba Anda memprovokasi orang.

Baiklah.Tadi Anda tadi katakan kerusuhan bisa di mana-mana bukan hanya di Ambon tetapi di London, Jakarta, dan berbagai tempat lainnya. Mengapa itu semua bisa terjadi?

Karena emosi, diperlakukan tidak adil, orang susah hidup. Karena itulah, itu semua bisa terjadi. Media massa harus membantu, jangan Anda berpikir ada campur tangan asing, tidak ada itu. Pikiran Anda ubah dulu, jangan berpikir yang macam-macam.

Sekarang di mana-mana terjadi kesenjangan sosial, orang banyak stres. Itu juga bisa sebagai pemicu kerusuhan?
Bisa lah, memang itu salah satunya. Jadi kita harus perbaiki itu, ekonomi kita agar lebih adil.

Mengapa kesenjangan bisa merata di seluruh penjuru dunia?
Justru kesenjangan, artinya tidak merata.

Maksudnya kesenjangan sosial terjadi di berbagai negara. Termasuk Inggris, sehingga London rusuh kan?
Oh, iya. Setelah pemerintah mencabut jaminan sosial tiba-tiba ekonominya rusak.

Di Indonesia, kesenjangan terjadi akibat apa?
Ya macam-macam. Kebijakan pemerintahnya, kemampuan ekonomi kita dalam membangun sesuatu dan juga macam-macam lah.

Kesenjangan sosial ini terjadi, apa karena diterapkannya sistem kapitalisme?
Ya tentu.Tapi di mana-mana kan memang diterapkan sistem ekonomi kapitalisme. Di Cina juga kapitalisme.

Iya, jadi timbullah kesenjangan kan?
Iya, di Timur Tengah juga begitu. Jadi ini harus dikelola dengan keseimbangan sosial. sudah ya.

Agenda Tersembunyi di Balik Komoditi Terorisme


Oleh: Son Hadi, Direktur Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Media Center
Disampaikan pada Diskusi Interaktif Gerakan Masyarakat Islam Indonesia (GMII), Bogor 20 September 2011 “Membendung Gerakan Radikalisme dan Terorisme Mengatasnamakan Agama”
Setelah sepuluh tahun berlalu serangan 11 September di menara kembar WTC New York, masih saja kelam tanpa ada satupun investigasi independen yang menjelaskan dengan jujur bagaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi. Peristiwa tersebut justru digunakan oleh Amerika untuk memerangi dan menjajah dunia Islam dengan dalih perang terhadap terorisme. Dengan dalih itu pula Amerika membelah dunia menjadi dua, bersama Amerika atau anti Amerika. Ada jutaan umat Islam terbunuh sebagai korban dan ribuan muslim mendekam di penjara. Di berbagai pelosok negeri dan War of Terorisme pun melaju tiada pernah henti
Ada hal yang perlu dan patut dicermati dalam proyek War Of Terorisme ini antara lain yang digagas oleh RAND dalam bukunya Building Moslem Moderate Network lebih jauh memberikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Komunitas Internasional menilai bahwa Dunia Islam ada dalam Frustasi dan Kemarahan, akibat dari periode keterbelakangan yang lama dan ketidakberdayaan komparatif serta kegagalan mencari solusi dalam menghadapi kebudayaan global kontemporer.
2. Komunitas Internasional menilai bahwa upaya umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam adalah suatu ancaman bagi peradaban Dunia Modern, dan bisa mengantarkan kepada Clash of Civilization (Benturan Peradaban).
3. Komunitas Internasional menginginkan Dunia Islam yang ramah terhadap Demokrasi dan Modernitas serta mematuhi aturan-aturan Internasional untuk menciptakan perdamaian global.
4. Komunitas Internasional perlu melakukan pemetaan Kekuatan dan Pemilahan Kelompok Islam untuk mengetahui kawan dan lawan, serta pengaturan strategi dengan pengolahan sumber daya yang ada di Dunia Islam.
5. Komunitas Internasional mesti mempertimbangkan dengan sangat hati-hati terhadap elemen-elemen, kecenderungan-kecenderungan, dan kekuatan-kekuatan mana dalam Islam yang mereka ingin perkuat; apa sasaran dan nilai-nilai dari persekutuan potensial yang berbeda itu; dan siapa yang akan dijadikan anak didiknya; dan konsekuensi-konsekuensi lebih besar seperti apa yang akan tampak ketika memperluas agenda-agenda masing-masing; termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang dibantu oleh AS dan sekutunya.
Komunitas Internasional membagi Umat Islam dalam Empat Kelompok, yaitu:
1. Fundamentalis: yaitu kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai- nilai Demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam.
2. Tradisionalis: yaitu kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya.
3. Modernis: yaitu kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin Reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas.
4. Sekularis: yaitu kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah sama sekali dari urusan negara.
Komunitas Internasional melakukan penilaian terhadap tiap kelompok sebagai berikut:
1. Fundamentalis: sangat anti Barat sehingga menjadi ancaman bagi demokrasi dan modernitas. Mendukung kelompok ini bukan suatu opsi bagi Barat, kecuali untuk pertimbangan taktis sementara. Penghancuran Fundamentalis menjadi suatu keharusan.
2. Tradisionalis: tidak anti Barat tapi penuh kecurigaan terhadap modernitas, sehingga mudah terpengaruh oleh Fundamentalis. Karenanya, kelompok ini harus dirangkul dan dijauhkan dari Fundamentalis, tapi mesti selalu diwaspadai.
3. Modernis: Pro Demokrasi dan Modernitas serta dekat dengan Barat dalam nilai dan kebijakan, sehingga bisa digunakan untuk mengcounter berbagai pemikiran Islam Fundamentalis. Namun ada kendala-kendala serius bagi modernis di tengah masyarakat Islam.
4. Sekularis: Pro Barat dan bisa dimanfaatkan, namun terkadang sulit menjadi sekutu karena afiliasi ideology yang berbeda. Karenanya, kelompok ini hanya bisa dimanfaatkan sepanjang memiliki ideology yang menopang demokrasi dan modernitas.
Komunitas Internasional menetapkan strategi terhadap tiap kelompok sebagai berikut:
1. Mengkonfrontir dan Menentang Kaum Fundamentalis, dengan jalan:
a. Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak-akuratannya
b. Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktivitas illegal.
c. Mengumumkan konsekuensi dari tindak kekerasan yang mereka lakukan.
d. Menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk memerintah.
e. Memperlihatkan ketidakberdayaan mereka mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
f. Mengamanahkan pesan-pesan tersebut kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
g. Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris.
h. Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
i. Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
j. Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.
Beberapa bukti tindakan untuk memojokkan kelompok yang disebut Fundamentalis oleh barat tersebut adalah: menafsirkan Al-Qur’an secara sengaja untuk menyesatkan dengan menyatakan penentangan dan pengharaman poligami pada satu sisi, namun menghalalkan perkawinan sejenis, lesbianisme dan homoseksual, mengulang-ulang tayangan gambar yang out of date dan tidak relevan terkait aksi-aksi umat Islam yang dinilai mengandung kekerasan di televisi, sementara itu kegiatan dari berbagai ormas Islam yang bersifat konstruktif seperti menjadi relawan di daerah bencana alam tidak pernah sekalipun ditayangkan, “mengeroyok” dan menyerang argumen narasumber yang berasal dari kelompok yang dianggap fundamentalis dengan format acara dialog televisi 3 lawan 1 seperti acara Today’s Dialogue, Save Our Nation, Topik Minggu Ini, wawancara khusus dan lain sebagainya, memenjarakan aktivis-aktivis islam dengan tuduhan teroris atau sebagai pelaku kekerasan, menghapus panggilan kehormatan kyai, ustadz, habib dalam pemberitaan media massa terhadap aktivis islam yang dianggap fundamentalis.
2. Mendorong Kaum Tradisionalis untuk Melawan Fundamentalis, dengan jalan:
a. Dalam Islam tradisional ortodoks terdapat elemen-elemen demokrasi yang dapat dipakai untuk mengcounter Islam fundamentalis otoriter yang represif dan otoriter.
b. Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis.
c. Mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
d. Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
e. Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan Kaum modernis.
f. Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Karena Kaum fundamentalis secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktik politik “Islam pinggiran” yang kabur.
g. Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan di latih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
h. Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda.
i. Memperuncing khilafiyah yaitu perbedaan antar mazhab dalam Islam, seperti Sunni–Syiah, Hanafi–Hambali, Wahabi–Sufi, dll.
j. Mendorong Kaum Tradisionalis agar tertarik dengan modernisme, inovasi dan perubahan.
k. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Kaum Fundamentalis.
l. Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme.
3. Mendukung sepenuhnya Kaum Modernis, dengan jalan:
a. Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.
b. Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.
c. Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.
d. Memberikan mereka suatu platform publik.
e. Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
f. Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
g. Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayanya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
h. Membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.
4. Mendukung secara selektif Kaum Sekularis, dengan jalan:
a. Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama
b. Mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideologi kiri.
c. Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya.
Beberapa contoh tindakan ini adalah: membangun mitos tentang sekulerisme, memanipulasi hari peringatan Pancasila untuk kepentingan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, mengkampanyekan penampilan kesalehan individual dan mencegah berlakunya perda-perda yang disebut perda syariat.
Untuk menjalankan program-program di atas maka, dalam dokumen Building Moderate Muslim Networks, Pemerintah Amerika Serikat harus menyediakan dana bagi individu-individu dan lembaga-lembaga seperti LSM, pusat kajian di Universitas-Universitas Islam maupun Universitas umum lainnya dan membangun jaringan antar komponen tersebut untuk memenuhi tujuan-tujuan Amerika.
Sebagai contoh keberhasilan membangun jaringan ini adalah apa yang pernah ditempuh oleh Amerika Serikat ketika mensponsori Kongres Kebebasan Budaya (Congress of Cultural Freedom), di mana pertemuan ini berhasil membangun komitmen antar elemen untuk membentuk jaringan anti komunis. Upaya yang serupa juga perlu dilakukan untuk membangun jaringan anti Islam. Bahkan bila perlu, sikap tidak setuju dengan kebijakan Amerika perlu sesekali ditampilkan oleh para aktivisnya sekedar untuk menampilkan citra independen dari Amerika dan Barat serta membangun kredibilitas semu para aktivis liberal pro barat, demi mencapai tujuan utamanya memusuhi Islam secara keseluruhan.
Amerika dan Barat dalam dokumen tersebut sepenuhnya sadar bahwa mereka terlibat dalam sebuah peperangan yang merupakan perang dengan senjata maupun perang ide. Dalam konteks ini Amerika dan Barat ingin memenangkan perang dengan cara “ketika ideologi kaum ekstrimis tercemar di mata penduduk tempat asal ideologi itu dan di mata pendukung pasifnya”. Kalimat ini jelas adalah merupakan tujuan Amerika dan Pihak barat lainnya untuk menghancurkan Islam dan menjauhkan Islam dari umat.
Pembangunan jaringan muslim moderat ini dilakukan pada tiga level:
1. Menyokong jaringan-jaringan yang ada;
2. Mengidentifikasi jaringan dan mempromosikan kemunculan dan pertumbuhannya.
3. Memberikan kontribusi untuk membangun situasi dan kondisi bagi berkembangnya faham pluralisme dan sikap toleran.
Adapun kelompok-kelompok yang dijadikan sasaran untuk direkrut dan dijadikan anak didik Amerika dan Barat adalah:
1. Akademisi dan Intelektual Muslim Liberal dan Sekuler;
2. Cendikiawan Muda Muslim yang Moderat;
3. Kalangan Aktivis Komunitas;
4. Koalisi dan Kelompok Perempuan yang mengkampanyekan kesetaraan gender;
5. Penulis dan Jurnalis (wartawan) yang moderat.
Para pejabat di kedutaan Amerika yang berada di negeri-negeri muslim harus memastikan bahwa kelompok ini terlibat dan sesering mungkin melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.
Sementara itu program-program prioritas untuk mendukung pembangunan jaringan muslim moderat ini diletakkan pada sektor:
1. Pendidikan Demokrasi, yaitu dengan mencari pembenaran dari nas-nas dan sumber-sumber Islam terhadap demokrasi dan segala sistemnya.
2. Dukungan pada Media massa untuk melakukan liberalisasi pemikiran;Kesetaraan Gender, yang merupakan medan tempur utama dalam perang pemikiran dengan kelompok Islam;
3. Advokasi Kebijakan, untuk mencegah agenda politik kelompok Islam.
Pihak Amerika juga sadar bahwa ide-ide radikal berasal dari Timur Tengah, oleh karenanya perlu dilakukan upaya “Arus Balik” yaitu menyebarkan ide-ide dan pemikiran dari intelektual-intelektual moderat dan modernis yang berhasil dicuci otak dan setuju dengan westernisasi dan gaya hidup barat, yang bukan berasal dari Timur Tengah, seperti Indonesia. Tulisan dan pemikiran moderat dari kalangan di luar Timur Tengah ini harus sesegera mungkin diterjemahkan dalam bahasa Arab untuk disebarkan di kawasan Timur Tengah.
Di sinilah terdapat jawaban, mengapa akhir-akhir ini Indonesia sering dijadikan tempat pertemuan Internasional cendekiawan dan intelektual muslim dari berbagai negara yang disponsori oleh Amerika dan negara barat lainnya. Dan saat ini banyak sekali produk-produk baik berupa tulisan maupun film yang diproduksi oleh kaum “intelektual Islam indonesia” yang disebarkan dan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Semua bantuan dana dan dukungan politik ini tujuan utamanya adalah untuk memerangi Islam dan Umat Islam.
Dalam konteks politik di Indonesia, secara keseluruhan agenda-agenda yang disusun oleh koalisi Zionis Salibis Internasional tersebut tengah berjalan. Bisa kita lihat bukti-bukti dari berbagai fenomena yang ada di kehidupan masyarakat Indonesia. Bermunculannya berbagai LSM yang didirikan oleh tokoh-tokoh “Islam” yang memproduk berbagai materi anti Islam dan memusuhi Islam, media massa yang selalu memberitakan negatif tentang umat Islam, bermunculannya tokoh-tokoh liberal yang memegang posisi sebagai opinion maker, bahkan dalam penyusunan kabinet yang terakhir ini, posisi-posisi kunci diserahkan kepada orang-orang yang sangat pro Amerika, seperti menteri-menteri bidang perekonomian yang sejak dulu hingga sekarang selalu dipegang oleh kelompok yang sama.
Solusinya adalah Pemahaman dan Pengamalan Islam yang Benar
Pemahaman yang benar tentang hakikat dinul Islam adalah solusi utama masalah ini dan Ulama sebagai pewaris nabi punya peranan penting dan strategis dalam upaya menyelamatkan Aqidah Islam dari upaya penyesatan yang sistematis yang dibungkus gerakan deradikalisasi sebagai dalih perang terhadap Terorisme. Seorang ulama hendaknya mempertahankan integritas keilmuannya tidak cenderung pada keinginan dan kehendak penguasa namun justru mengambil peran yang aktif sekaligus kritis dalam memahamkan Islam yang benar, terutama dalam menjelaskan makna hakikat Tauhid beserta konsekuensinya.
Begitu pula dalam menjelaskan Jihad dan Tegaknya Syariat dalam kehidupan bernegara, ini adalah kunci kejayaan Islam karena pada hakikatnya Khilafah dan Daulah Islamiyah adalah syarat keselamatan tauhid dan bagi muslim keselamatan tauhid adalah hal yang utama dan prinsip dalam hidupnya dan Tauhid akan selalu di hantam fitnah bila tinggal di negara kafir musyrik, di antara yang perlu dipahamkan adalah:
1. Pengertian dan pemahaman Islam rahmatan lil Alamin
Islam rahmatan lil alamin sering disalahartikan islam yang teloran terhadap segala hal termasuk dalam masalah kemusyrikan dan kekafiran. Padahal Rasulullah membawa Risalah Islam sebagai Dien (World View) berlaku secara universal mengikat siapapun baik jin dan manusia, dari bangsa dan warna kulit, di manapun dan kapanpun hingga akhir zaman hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah:
“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran). "Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat. ” (QS. Al-An’am: 90)
“Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. ” (QS. Yusuf: 104)
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. ” (QS. Al-Anbiyaa’:107)
“Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk"(Qs Al-A’raf: 158)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (Qs Saba’ 28).
Demikian juga dijelaskan Dalam Hadits Nabi:
Dari Jabir Bin Abdullah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Aku diberi 5 perkara yang belum pernah diberikan pada seorang pun dari para nabi sebelumku: Aku ditolong oleh rasa takut musuhku selama sebulan perjalananku, Dihamparkan seluruh bumi sebagai masjid yang bersih sehingga di manapun umatku hendak shalat maka shalatlah, dihalalkan bagi ghanimah, jika nabi sebelumku hanya diutus kepada umatnya secara khusus, maka aku diutus kepada seluruh manusia, aku diberi hak syafaat” ( HR Bukhari 1/168)
Dalam menyambut dakwah nabi manusia terbagi menjadi 2 kelompok yang dalam terminology Islam disebut sebagai mukmin dan kafir, sebagaimana firman Allah:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (Qs An-Nahl 36).
“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk” (Qs Al-A’raf 30).
“Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. At-Taghabun 2).
2. Makna dan Hakikat Jihad
Jihad adalah bagian yang tidak terpisahkan dari syariat Islam karenanya makna dan hakikat pun sangat jelas tidak perlu ada redefinisi ulang makna daripada jihad, Jihad adalah syariat Allah untuk melindungi dan Islam dan kaum Muslimin sebagaimana firman Allah:
"Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Qs Al-Baqarah 216).
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (Qs Ash-Shaff 10-11).
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Qs Al-Anfal 39).
Wallahu A’lam bis-shawab. [voa-islam.com]

Minggu, 14 Agustus 2011

Pendidikan Gratis dan Bermutu Dalam Islam


262817_10150252409840658_175817530657_8053020_2995201_n.jpg (608×454)
Oleh: Hafidz Abdurrahman


Islam bukan hanya memandang pendidikan sebagai perkara penting, tetapi Islam telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan dasar masyarakat, bersama kesehatan dan keamanan. Karena itu, Islam bukan hanya menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pendidikan tetapi Islam juga mewajibkan setiap warga negara untuk menuntut ilmu, dan mewajibkan negara untuk memberikan layanan nomor satu kepada rakyatnya dalam bidang pendidikan.

Nabi bersabda, "Tuntutlah ilmu meski sampai ke Cina. Karena, menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi setiap orang Muslim." (Al Khathib Al Baghdadi, ArRihlah fi Thalab Al Hadits; As Suyuthi, Jami' Al Masanid wa Al Marasil, Juz 1/463). Artinya, mengutip penjelasan Al 'Allamah Al Manawi, betapapun jauhnya tempat ilrnu itu berada, maka kita diperintahkan untuk mencarinya. Sebab, mencari ilmu hukumnya adalah fardhu (Al Manawi, Faidh Al Qadir, Juz 1/543). Dari sini, bisa disimpulkan bahwa kewajiban menuntut ilrnu tidak mengenal batas teritorial. Selain tidak mengenal batas teritorial, menuntut ilmu juga tidak mengenal batas waktu, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi kepada para sahabat. Mereka menuntut ilmu hingga wafat.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban, di mana pendidikan merupakan proses ilmu tersebut ditransformasikan kepada masyarakat, maka kebutuhan akan pendidikan merupakan keniscayaan. Karena itu, negara wajib menjamin tersedianya layanan pendidikan untuk seluruh rakyatnya. Ini ditunjukkan dengan kebijakan Nabi SAW ketika menjadi kepala negara, saat menjadikan kaum kafir Quraisy sebagai tawanan, maka tebusan pembebasan mereka adalah dengan mengajari kaum Muslim baca tulis (Ibn Hisyam, as-Siroh an-Nabawiyah, Juz I/).

Hak Dasar Rakyat dan Kewajiban Negara

Ilmu merupakan kunci dunia dan akhirat. Dengan ilmu, dunia dan akhirat bisa dikuasai. Generasi terbaik umat Islam ini telah menguasai dunia, sekaligus mendapatkan kebaikan akhirat, melalui penguasaan mereka akan ilmu. Ilmu ini mereka peroleh melalui proses edukasi. Menyadari kebutuhan mereka akan ilmu, para sahabat pun terus-menerus belajar tanpa mengenal usia. Al Bukhari meriwayatkan, bahwa para sahabat Rasulullah SAW terusmenerus belajar, meski di usia mereka yang sudah senja (AI Bukhari, Shohih Al Bukhari, Juz 1/26). Demikian pula bagi para sahabat yang masih belia, mereka juga tidak mau ketinggalan. Ali bin Abi Thalib, yang disebut oleh Nabi sebagai pintu kota ilmu (babu al-Madinah), dan Ibn Abbas yang disebut sebagai penafsir Alquran (turjuman al-Qur'an) sama-sama telah belajar sejak usia 7 atau 8 tahun. Sayyidina 'Ali menuturkan, "Belajar di waktu kecil
seperti memahat di atas batu." (Al Kattani, At Taratib Al Idariyyah, Juz II/162).

Pada zaman Nabi SAW dan para Khulafa' Rasyidin setelahnya, masjid Nabawi telah dijadikan sebagai tempat belajar. Nabi membentuk halqah ilmu, demikian juga para sahabat. Al Imam Al Yusi, dalam kitabnya, Al Qanun, menuturkan bahwa model penyampaian ilmu seperti sekarang sebenarnya bersumber dari praktik Nabi yang dilakukan kepada para sahabat Baginda di majelis-majelis ilmu. Ketika itu, masjid menjadi pusat belajar-mengajar. Umar menuturkan, "Barangkali orang yang masuk masjid, bisa diumpamakan sebagai kuda yang berhamburan. Jika dia melihat majelis kaumnya dan melihat orang yang dia kenal, maka dia duduk bersamanya." (Al Kattani, At Taratib Al Idariyyah, Juz II/152). Hingga sekarang di Masjid Naba¬wi maupun Masjid Al Haram, hal¬qah ilmu ini masih berjalan.

Tidak hanya itu, menyadari akan kewajiban negara, “Imam adalah penggembala, dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya." (HR Al Bukhari), maka negara Islam pun menyediakan infrastruktur pendidikan kelas satu untuk seluruh rakyatnya. Mulai dari sekolah, kampus, perpustakaan, laboratorium, tenaga pengajar hingga biaya pendidikan yang lebih dari memadai.

Pada zaman Abbasiyah, Al Kuttab (sekolah dasar) banyak didirikan oleh Khilafah, menyatu dengan masjid. Di sana juga dibangun perpustakaan. Pendidikan tinggi pertama pada zaman itu adalah Bait Al Hikmah, yang didirikan oleh Al Ma'mun (830 M) di Baghdad. Selain berfungsi sebagai pusat penerjemahan, juga digunakan sebagai pusat akademis, perpustakaan umum dan observatorium (Philip K Hitti, History of the Arabs, 514-515). Setelah itu,
baru muncul Akademi Nidzamiyyah yang dibangun antara tahun 1065-1067 M. Akademi yang kemudian dijadikan oleh Eropa sebagai model perguruan tinggi mereka (Reuben Levy, A Baghdad Chronide, Cambridge: 1929,193).

Di Cordoba, Spanyol, pada zaman itu juga telah berkembang Le Mosquet yang asalnya merupakan gereja, kemudian dialihfungsikan sebagai masjid, lengkap dengan madrasah, dengan berbagai fasilitas pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan telah menelorkan ulama sekaliber Al Qurthubi, As Syathibi, dan lain-lain. Tidak hanya ahli tafsir dan usul, akademi pendidikan di era Khilafah juga berhasil melahirkan para pakar di bidang kedokteran seperti Ali At Thabari, Ar Razi, Al Majusi dan Ibn Sina; di bidang kimia seperti Jabir bin Hayyan; astronomi dan matematika, Mathar, Hunain bin Ishaq, Tsabit bin Qurrah, Ali bin Isa Al Athurlabi dan lain-lain; geografi, seperti Yaqut Al Hamawi dan Al Khuwarizmi; historiografi, seperti Hisyam Al Kalbi, Al Baladzuri, dan lain-lain. Mereka merupakan produk akademi pendidikan di era Khilafah.

Gratis dan Bermutu

Fakta sejarah di era keemasan Islam di atas rnembuktikan, bahwa kualitas output pendidikan yang dihasilkan oleh Khilafah telah mendapatkan pengakuan dunia. Menariknya, pendidikan kelas satu seperti itu diberikan dengan gratis alias cuma-cuma kepada seluruh warga negaranya. Karena itu, pendidikan gratis dan bermutu dalam sistem Khilafah bukanlah isapan jempol.

Pendidikan gratis tetapi bermutu bisa diwujudkan oleh Khilafah karena Khilafah mempunyai sumber pendapatan yang sangat besar. Selain itu, kekayaan milik negara dan milik umum dikelola langsung oleh negara yang hasilnya didistribusikan kepada rakyat melalui skim pembiayaan pendidikan, kesehatan dan layanan publik yang lain. Dengan cara yang sama, negara juga bisa membangun infrastruktur pendidikan yang lebih dari memadai, serta mampu memberikan gaji dan penghargaan yang tinggi kepada ulama atas jasa dan karya mereka. Dari pendidikan dasar, menengah hingga atas, yang menjadi kewajiban negara, tidak sepeser pun biaya dipungut dari rakyat. Sebaliknya, semuanya dibiayai oleh negara. Anak-anak orang kaya dan miskin, sama-sama bisa mengenyam pendidik¬an dengan kualitas yang sama.

Dengan filosofi, "Imam (kepala negara) adalah penggembala, dan dialah satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap gembalaan (rakyat)-nya." (HR Al Bukhari), kewajiban untuk memberikan layanan kelas satu di bi¬dang pendidikan ini benar-benar dipikul oleh negara. Jika kas negara tidak mencukupi, maka negara berhak mengambil pajak secukupnya dari kaum Muslim untuk membiayai kebutuhan ini (Al 'Allamah Syaikh Taqiyuddn An Nabhani, Muqoddimatu Ad Dus¬tur, hal. 364-370).

Begitulah cara Islam, melalui institusi Khilafah, merealisasikan pendidikan gratis dan bermutu. Wallahu a'lam.

Mimpi Para Ulama Bukan Sembarang Mimpi


285153_10150253295555658_175817530657_8066003_6036616_n.jpg (288×398)Oleh : K.H. M. Shiddiq al-Jawi




Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.


Mimpi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-hulmu (jamaknya : al-ahlaam), atau al-manaam, atau al-ru`yaa. Definisi mimpi adalah apa yang dilihat oleh orang yang bermimpi dalam tidurnya (maa yaraahu al-naa`im fi naumihi). (Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jamul Wasith, hlm. 195; Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al-Fuqahaa’, hlm. 142).


Menurut Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Sulthan bin Surur dalam kitabnya Tafsir Al-Ahlam Juz I hlm.131-132, mimpi itu secara garis besar ada 2 (dua) macam. Pertama, mimpi yang benar (shahih), yaitu mimpi yang berasal dari Lauhil Mahfuzh. Misalnya, mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Kedua, mimpi yang tidak benar, atau mimpi yang rusak (fasid). Mimpi jenis kedua ada beberapa macam. Di antaranya apa yang disebut haditsun nafs, yaitu cetusan perasaan jiwa. Misalnya orang yang dalam keadaan sadar menyaksikan sesuatu, lalu dalam mimpinya dia menyaksikan sesuatu itu.


Walhasil, mimpi itu tak semuanya omong kosong. Ada mimpi yang benar (shahih). Nah, bagi sebagian orang, mimpi yang benar ini merupakan inspirasi atau penguat motivasi untuk menghasilkan karya-karya agung (magnum opus) yang sangat monumental dan spektakuler. Para ulama tak sedikit menghasilkan berbagai prestasi atau karya besar dengan inspirasi mimpi seperti ini.


Imam Buwaithi, seorang mujtahid mazhab Syafi’i, berkata,"Imam Syafii datang kepada kami di Mesir dan dia banyak membantah Imam Malik. Maka akupun menuduhnya [yang bukan-bukan] namun aku tetap kebingungan. Aku pun memperbanyak sholat dan doa dengan harapan agar Allah menunjukkan kepadaku mana dari keduanya yang haq. Lalu aku melihat dalam mimpiku bahwa kebenaran ada bersama Imam Syafii…" (Musthafa Abdur Razaq, Tamhid li Tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah, hal. 224; dikutip oleh Ahmad Nahrawi Abdus Salam, Al-Imam Asy-Syafii fi Madzhabaihi Al-Qadim wa Al-Jadid, hal. 71).


Imam Saifuddin Al-Amidi, pengarang kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, berkata,"Aku bermimpi seakan-akan ada suara yang mengatakan,'Ini adalah rumah Imam Ghazali.' Aku pun masuk ke dalamnya dan aku temukan sebuah peti mayat (tabut). Lalu aku buka peti itu dan aku dapati Imam Ghazali ada di dalamnya dengan kain kafannya, yang terbuat dari kain katun. Lalu aku menyingkap kafan yang menutupi wajahnya dan aku pun menciumnya.' Ketika aku bangun, aku berkata pada diriku sendiri,'Adalah layak bagiku untuk menghapalkan perkataan Al-Ghazali.' Aku pun mengambil kitab Al-Mustashfa karya Imam Ghazali kemudian menghafalnya dalam waktu singkat." (Saifuddin Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, Bab Tarjamah Al-Mu`allif, Juz 1, Beirut : Darul Fikr, 1996).


Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M), penulis kitab hadits paling top, yaitu Shahih Al-Bukhari, pernah berkata,"Aku bermimpi melihat Nabi SAW, seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir mimpi. Ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadis Rasulullah SAW. Mimpi inilah antara lain yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' Ash-Shahih [Shahih al-Bukhari]." (Muhammad Muhammad Abu Syu'bah, Kitab Hadis Sahih yang Enam (fi Rihab As-Sunnah : Al-Kutub Ash-Shihah As-Sittah), Penerjemah Maulana Hasanudin, [Bogor : Pustaka Litera Antar Nusa], 1991, hal. 46).


Imam Taqiyuddin An-Nabhani (1909-1977), pendiri Hizbut Tahrir, suatu hari pernah ditanya seseorang,"Bagaimana bisa terlintas dalam benak Anda untuk mendirikan Hizbut Tahrir?” Maka beliau menjawab,”Aku melihat Rasulullah SAW dalam mimpiku, sedang aku tengah duduk sendirian di Masjidil Aqsha. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadaku,'Berdirilah dan berkhutbahlah kepada orang-orang!' Aku pun berkata,'Bagaimana aku akan berkhutbah sedangkan di masjid ini tidak ada seorang pun?' Rasulullah SAW berkata kembali kepadaku, 'Berdirilah dan berkhutbahlah kepada orang-orang!' Maka aku pun berdiri dan mulai berkhutbah. Tiba-tiba orang-orang mulai berdatangan, seorang demi seorang, serombongan demi serombongan hingga memenuhi Masjidil Aqsha dan masjid ini pun kemudian penuh sesak dengan orang-orang di dalamnya." (http://www.alokab.com/; dikutip oleh Muhammad Muhshin Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamah Daulah Al-Khilafah, Baghdad : Kulliyah Ushuluddin Al-Jami’ah Al-Islamiyah, 2006, hal. 9).


Subhanallah, berkat pertolongan Allah SWT, Hizbut Tahrir kini telah tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Itu bermula dari sebuah kelompok pengajian oleh Imam Taqiyuddin An-Nabhani di sebuah pojok di Masjidil Aqsha, Yerussalem, Palestina, tahun 1953. Kini Hizbut Tahrir terus menyebarkan dakwah dan perjuangannya untuk menegakkan Syariah dan Khilafah di lebih dari 45 negara, termasuk di Indonesia. Semoga ini adalah perwujudan dan makna dari mimpi Imam Taqiyuddin An-Nabhani, rahimahullah. Amien.

Sabtu, 16 Juli 2011

Pernyataan Heraclius, Kaisar Roma tentang Rasulullah dan Islam


Pernyataan Heraclius, Kaisar Roma tentang Rasulullah dan Islam
Oleh: Achmadoel Fadjri


Mengutip dan menyimpulkan kisah dari buku Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi. Percakapan antara Heraclius, kaisar Romawi dengan Abu Sofyan, paman Rasul sendiri yang pada saat itu belum masuk Islam dan sedang berdagang di Syam. Disaat yang sama korespondensi oleh Rasul melalui utusan beliau Dihyah bin Khalifah Al Kalby kepada Kaisar Roma yang sedang berkuasa, Heraklius, pada akhir tahun 6 H.

Heraklius yang saat itu berada di Baitul Maqdis mengundang Abu Sufyan untuk ikut pertemuan dimana dihadiri para pembesar Roma. Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan 'spekulatif' kepada Abu Sufyan tentang Rasul dan ajaran (Islam) yang dibawa Muhammad. Berikut pertanyaan sekaligus jawaban dari Heraclius.

- Aku sudah menanyakan kepadamu (Abu Sufyan) tentang nasabnya (Muhammad), lalu kau katakan bahwa dia adalah orang yang terpandang di antara kalian. Memang begitulah para rasul yang diutus disuatu nasab dari kaumnya.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah pernah ada seseorang diantara kalian sebelumnya yang mengatakan seperti apa yang dikatakannya (Rasul)? Lalu engkau (Abu Sufyan) mengatakan, tidak ada."
Heraklius berkata sendiri, "Andaikata ada seseorang yang berkata seperti itu sebelumnya, tentu akan kukatakan bahwa, 'memang ada seseorang yang mengikuti perkataan yang pernah disampaikan sebelumnya'.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah diantara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja? Engkau jawab, tidak ada."
Heraklius berkata sendiri, "Kalaupun di antara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja, tentu akan kukatakan, 'Memang di sana ada orang yang sebenarnya mencari-cari kerajaan bapaknya'.

- Aku sudah menanyakan padamu, apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya? Engkau jawab, tidak. Memang aku tahu tidak mungkin dia berdusta terhadap manusia dan terhadap Allah.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang2 yang terpandang ataukah orang2 yang lemah? Engkau katakan orang orang lemahlah yang mengikutinya. Memang begitulah pengikut para rasul.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, adakah seseorang yg murtad dari agamanya karena benci terhadap agamanya itu setelah dia memasukinya? Engkau katakan, tidak ada. Memang begitulah jika iman sudah meresap ke dalam hati.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah dia pernah berkhianat? Engkau katakan, tidak pernah. Memang begitulah para rasul yg tidak pernah berkhianat.

- Aku sudah menanyakan kepadamu, apa yang dia perintahkan? Engkau katakan, bahwa dia menyuruh kalian untuk menyembah Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, melarang kalian menyembah berhala, menyuruh kalian mendirikan sholat, bershadaqah, jujur dan menjaga kehormatan diri. Jika yang engkau katakan ini benar, maka dia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak saat ini. Jauh-jauh sebelumnya aku sudah menyadari bahwa orang seperti dia akan muncul, dan aku tidak menduga bahwa dia berasal dari tengah kalian. Andaikata aku bisa bebas bertemu dengannya, maka aku lebih memilih bertemu dengannya. Andaikan aku berada di hadapannya, tentu akan kubasuh kedua telapak kakinya.

Setelah itu Heraclius meminta surat Rasulullah SAW dan membacanya.

Inilah Cara Shalahuddin Al-Ayyubi Merebut Baitul Maqdis

Bagaimana sikap umat Islam ketika Masjid Al-Aqsha diserang? Kemana para mujahid? Ada apa dengan kaum muslimin? Tidak kah merasa terusik, seperti terusiknya pendeta Kristen bernama Peters Amiens, tatkala Baitul Maqdis dianggap telah dikuasai umat Islam pada tahun 1094. Sampai-sampai ia membangkitkan semangat raja-raja Kristen di Eropa agar segera merebut tanah suci itu, lalu menduduki dan menguasainya.
Diprovokasinya Kaisar Elexius Komeninus dari Byzantium (Konstantinopel) oleh Peter Amiens, agar waspada terhadap kemungkinan kekuasaan Islam Saljuk menguasai imperium konstantin yang besar itu. Kaisar pun terprovok, lalu menyampaikan permohonan kepada Paus Urbanus II agar segera mengeluarkan perintah suci kepada raja-raja di benua Eropa untuk mengumpulkan kekuatan, merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Ringkasnya, Paus mengabulkan permohonan itu. ”Deus La Volts” (Demikianlah kehendak Tuhan). Seperti itulah seruan ”jihad suci” dari mulut sang Paus, sebagai sebagai tanda dimulainya Perang Salib.
”Fatwa” Paus yang terkenal adalah: ”Barangsiapa yang bersedia masuk dalam angkatan perang suci itu, akan diampunilah sekalian dosanya, kecil ataupun besar.” Perang Salib I (1097-1099) pun diberi keistimewaan sebagai penebus dosa. Prancis, Bourgandia dan Normandia adalah bangsa Eropa pertama yang mendaftarkan diri sebagai ”relawan jihad”. Mereka dipimpin oleh raja dan kaum bangsawan, seperti Godfrey dari Bourgandia, Duke dari Loftharingen dan sebagainya. Hampir 100 ribu tentara yang tergabung dalam pasukan itu.
Dari Konstantinopel, mereka melancarkan serangan ke negeri-negeri Islam, lalu Palestina sebagai tujuan akhir. Pada tahun 1099 M (492 H), terkepunglah tanah suci Palestina dengan kekuatan 40 ribu tentara yang tersisa, sedangkan tentara Mesir yang mempertahankan kota hanya seribu orang saja. Setelah pengepungan selama 15 hari jatuhlah pertahanan kota dan masuklah tentara Salib ke Baitul Maqdis (Palestina).
Saat Palestina ditaklukkan kaum salib, umat Islam mendapatkan perlakuan keji yang sulit dilupakan. Ahli-ahli sejarah perang salib mengakui terjadinya kebiadaban itu: orang Islam dipaksa menjatuhkan diri dari puncak benteng, dibakar hidup-hidup, ditarik ke jalan raya dengan kuda-kuda perang mereka sampai mati, kemudian mayatnya ditumpuk seperti menimbun sampah.
Ini sekadar gambaran, bahwa kaum Salibis saja begitu terusik ketika Baitul Maqdis yang diklaim sebagai tanah suci mereka, lalu dengan segera dibentuk angkatan perang salib hingga tiga gelombang. Seharusnya, kaum muslimin di seluruh negeri bangkit, lebih bersemangat untuk tampil sebagai pembela Al Aqsha.
Seruan jihad itu bukan tidak pernah dikumandangkan kaum muslimin. Hanya saja, keberadaan khalifah di Baghdad dibawah kuasa sultan-sultan Saljuk ketika itu sedemikian lemahnya, sehingga yang tinggal hanya gelar khalifahnya saja, sedang kekuasaanya nihil. Ada pula khalifah Fathimiah di Mesir, tetapi tidak berdaya merebut kembali Baitul Maqdis. Saat itu, moral raja-raja Islam berada pada titik terendah, mereka berpecah belah, cakar-cakaran karena berebut kekuasaan. Kebencian itu amat mendalam diantara mahzab Sunni dan Syi’ah. Akibatnya, mereka tidak peduli Baitul Maqdis dikuasai agama lain.
Dalam Perang Salib II tampillah Nuruddin, Asaduddin, dan Shalahuddin, yang tentaranya terdiri dari bangsa Arab, Turki dan Kurdi. Kekuatan ini full menjadi satu. Pasukan muslim ini berhasil menghalau kaum salibis dari Mesir. Tahukah, bagaimana kiat Shalahuddin Al Ayyubi (Saladin) merebut Baitul Maqdis?
Shalahuddin berkeyakinan, untuk berjihad memerangi pasukan salib, ia harus mempersatukan Mesir dan Suria (Syam) terlebih dahulu. Sebab, jika pecah sulit bagi pasukan Islam mengusir musuh. Mesir yang sebelumnya diperintahkan kerajaan Fathimiyah yang berpaham Syi’ah, dan Syam berpaham Sunnah. Oleh Shalahuddin disatukanlah Mesir dan Syam dengan mahzab Syafi’i, sehingga keduanya menjadi sejalan dibawah komando Shalahuddin. Yang menarik, Shalahuddin pun memerangi kaum Ismailiah atau Bathiniah yang sangat merugikan Islam.
Mesir dan Syam pun tunduk dibawah titah Shalahuddin. Sejumlah ekspedisi militer dilakukan sebagai tahapan merebut kembali Baitul Maqdis. Ketika itu Shalahuddin memerintahkan abangnya Tauran Syah pergi menaklukkan Yaman, termasuk Hijaz (Makkah-Madinah) lebih dulu takluk dibawah Mesir yang dipimpin Shalahuddin.
Pada tahun 1175, atas permintaan Shalahuddin, khalifah di Baghdad mengeluarkan keputusan: mengakui Shalahuddin sebagai penguasa bagi negeri Mesir, Maghribi, Naubah, Jazirah Arab bagian Barat, Palestina dan Syiria tengah. Dari pengalamannya bertempur, Shalahuddin mempelajari penyebab keruntuhan dan kekalahan Islam selama ini, diantaranya adalah perpecahan para raja dan pemimpinnya. Yang satu ingin kejatuhan yang lain, agar berkuasa sendiri. Sebab lainnya adalah akibat pengkhianatan wazir di Mesir, yang sudi berhubungan rahasia dengan pihak musuh, asal mereka mendapat jaminan kekuasaan.
Mengapa Shalahuddin memerangi raja-raja Islam? Beliau yakin bahwa Amir-amir (Gubernur) ini tidak akan kuat bertahan menghadapi tentara Salib, apalagi jika tidak ada kesatuan komando. Dikhawatirkan, para amir itu akan meletakkan senjatanya dan membuat perdamaian sendiri dengan musuh. Yang ada dalam otaknya adalah harta dan tahta tetap ada dalam genggamannya.
Teori perang Shalahuddin itu terbukti di kemudian hari, ketika Raja Abdullah dari bangsa Arab, membuat perdamaian sendiri dengan opsir tinggi Inggris, saat perang sedang berkecamuk. Bukankah ini pengkhianatan. Karena itulah, Shalahuddin lebih dulu membersihkan raja-raja Arab sebelum ia menghadapi musuh sesungguhnya: Kaum Salib.
Satu hal yang menjadi faktor kemenangan adalah membangun kepribadian dari seorang pemimpin dan para mujahid. Ada kesadaran dalam diri Shalahuddin, bahwa sebelum dia mempersatukan orang lain, ia harus mempersatukan pribadinya dengan Tuhan. Sebelum dia menyuruh orang lain berdisiplin diri, ia harus lebih dulu mendisiplinkan diri. Intinya, ia harus menundukkan dirinya sebelum menundukkan musuhnya.
Shalahuddin seperti sedang mengingatkan, yang datang ini adalah Raja-raja Eropa, bukan raja sembarangan. Mereka adalah musuh yang paling kuat persenjataan dan pasukannya. Tanda Salib saja bisa membangkitkan semangat juangnya. ”Apa arti perjuangan Islam, kalau pemimpin peperangan melawan musuh Islam itu bukan seorang muslim sejati? Rahasia kemenangan Nabi Muhammad Saw dalam segala peperangan adalah karena kekuatan iman dan kesabaran,” demikian (alm) Buya Hamka pernah berujar.
Kepribadian dan kesalehan. Itulah pelajaran pertama yang harus dimiliki tentara Allah. Shalahuddin adalah teladan bagi pasukannya. Shalatnya selalu berjamaah, puasa setiap Senin-Kamis tak pernah ditinggalkan, sekalipun sedang dalam pertempuran. Ia senang sekali mendengarkan qari membaca Al Qur’an, bahkan kerap menangis saat menyimaknya. Di malam peperangan pun, ulama-ulama hadits diminta membacakan beberapa hadits dihadapannya. Hebatnya, Shalahuddin jarang sekali meninggalkan shalat Tahajjud.
Selain menyiapkan pasukan, persenjataan, strategi dan diplomasi yang jitu, setiap mujahid harus melatih mental dan kepribadiannya secara vertikal. Inilah yang menjadi modal utama tentara Allah kala menghadapi musuh yang kuat tentara dan persenjataannya. Al Aqsha pun dapat direbut kembali ke pangkuan kaum muslimin. ■ Desastian

Hikmah Rasulullah SAW Melarang Ummatnya Makan / Minum Sambil Berdiri!



عن أنس وقتادة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم ” أنه نهى أن يشرب الرجل قائماً قال قتادة : فقلنا فالأكل ؟ فقال : ذاك أشر و أخبث


Dari Anas dan Qatadah radhiallaahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
“Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri”.
Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?”beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا يشربن أحدكم قائما ، فمن نسي فليستقئ

“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

Rahasia Medis

Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat,lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

Dr. Ibrahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam. [] dari berbagai sumber [al-khilafah]

Al-Qur'an dan Sains: Bentuk Bulat Bumi

bumi-_110713182356-797.jpg (360×260)Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi mempunyai batasan akhir yang sekiranya manusia melewati batas itu, ia akan jatuh ke luar angkasa.

Namun lama kemudian, ternyata keyakinan mereka bertentangan dengan realitas yang mereka temukan sendiri. Mereka mendapatkan, ketika seseorang berjalan dan terus menelusuri semua permukaan bumi, dia tidak bisa terlepas dari luar lingkup permukaan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa.

Realitas yang mereka dapatkan ini, mendorong mereka untuk berpikir dan melakukan penelitian-penelitian berkenaan dengan bentuk sebenarnya dari bumi yang mereka huni. Bukti-bukti yang mereka dapatkan menunjukkan bahwa bumi, ternyata berbentuk bulat.

Salah satu dari bukti yang mereka dapatkan adalah bagian atas kapal laut yang terlihat lebih dahulu daripada bagian bawahnya. Mereka berpikir, kalau sekiranya bumi tidak berbentuk bulat, maka ke dua bagian akan terlihat dalam waktu yang bersamaan. Bukti lain yang mereka dapatkan adalah lengkungan langit yang akan terlihat bulat pada jarak terjauh dari yang dapat dilihat oleh mata mereka di atas permukaan lautan.

Demikianlah, pengetahuan manusia tentang bentuk bumi, mengalami perkembangan. Dan dengan kemajuan teknologi luar angkasa dan satelit, para ilmuwan telah berhasil mengambil gambar sesungguhnya dari planet bumi. Gambar yang berhasil mereka ambil, membuktikan bahwa bumi memiliki bentuk lonjong seperti bentuk telur yang mendekati bulat.

Mereka tidak mengetahui, bahwa Al-Qur'an telah menyatakan hal yang sama sejak 14 abad yang lalu. Dalam salah satu ayatnya yang terdapat dalam surah An-Nazi’at ayat 30, Allah SWT berfirman: “Dan bumi setelah itu dihamparkan-Nya.”

Maksudnya, Allah telah menciptakan bumi dengan membentangkannya dalam bentuk seperti lonjong telur, yang memiliki dua bagian atau dua kutub yang berbeda sifatnya, antara bagian atas dan bagian bawahnya. Bentuk bumi serupa dengan bentuk telor ini, di mana bumi terdiri dari dua kutub, yaitu kutub selatan dan kutub utara. Masing-masing kutub, kondisinya berbeda dari yang lainnya.

Ungkapan ‘setelah itu’ dalam ayat di atas, juga mengisyaratkan adanya peristiwa alamiah yang mendahului pembentangan bumi, yaitu penciptaan inti bumi dan lapisan-lapisannya.

Peta Misterius Benua Selatan

Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar
Apa yang mutlak harus dimiliki oleh seorang penguasa, sebelum dia bisa memerintah dengan efektif? Jawabanya adalah: peta! Dengan peta para penguasa dapat mengetahui wilayah kedaulatan yang harus dijaganya, dan wilayah asing yang harus dia waspadai. Dengan peta juga para penguasa mengetahui sebaran sumberdayanya, baik alam, infrastruktur, fasilitas produksi, hingga sebaran penduduk.
Inilah yang membuat para penguasa zaman dahulu selalu dekat dengan para geografer atau para ahli pembuat peta. Karena itu tidak heran, bahwa salah satu peninggalan zaman keemasan Khilafah Utsmaniyah adalah peta, dan yang paling terkenal dari itu adalah peta Piri Rais.
Peta Piri Rais adalah sebuah peta dunia yang dibuat abad-16 oleh seorang laksamana, geografer dan kartografer Turki Utsmani, Piri Rais, ditanggali pada bulan Muharram 919 H (1513 M) dan dipresentasikan untuk Sultan Salim pada 1517 M. Peta ini menunjukkan pantai barat Eropa dan Afrika utara dengan tingkat ketelitian yang masuk akal, hingga pantai Brazil yang saat itu sudah dikenal. Beberapa pulau di Atlantik seperti Azores dan Kepulauan Canary, bahkan pulau mistis Antillia juga dimuat. Yang unik, peta ini menunjukkan sebuah daratan di selatan yang merupakan bukti atau dugaan paling awal atas eksistensi benua Antartika.
Peta ini dibuat di atas kulit kijang dengan beberapa ukuran yang berkisar 90 cm x 65 cm. Pada saat ini yang masih dapat diselamatkan memuat pantai barat Afrika dan pantai timur Amerika Selatan. Dalam legendanya, Piri menuliskan bahwa peta ini dikompilasi dari sekitar dua puluh peta, mulai dari delapan peta Romawi kuno buatan Ptolomeus zaman Alexander Agung, beberapa peta Arab atas India (mungkin karya Ibnu Batutah), peta Portugis atas beberapa penjelajahan Samudera, dan sebuah peta karya Qulûnbû (Columbus) atas benua baru.
Ada sejumlah debat ilmiah atas peta sumber ini. Ada yang mengatakan sumbernya lebih dari 20, bahkan sampai 34. Sebagian bahkan menduga peta-peta itu ditemukan dari perpustakaan kuno Alexandria. Peta Piri Rais ditemukan kembali ketika tahun 1929 istana Topkapi di Istanbul akan diubah menjadi museum. Peta Piri Rais ini menjadi menarik karena merupakan peta pertama tentang Amerika dan peta satu-satunya dari abad 16 yang menunjukkan benua Amerika Selatan dalam posisi lintang dan bujur yang proporsional terhadap Afrika. Lama para geografer mencari “peta yang hilang” dari Columbus. Setelah membaca penemuan tersebut di surat kabar The Illustrated London News, Menlu AS Henry L Stimson mengontak Dubes AS di Turki Charles H Sherril dan meminta investigasi untuk menemukan sumber peta Columbus, yang mungkin masih ada di Turki. Sayangnya pemerintah Turki tidak menemukan peta tersebut.
Saat ini peta Piri Rais disimpan di Perpustakaan Istana Topkapi namun tidak dipamerkan kepada umum.
Beberapa pakar seperti Charles Hapgood, Gregory McIntosh dan Gavin Menzies menemukan beberapa ketakakuratan geometri peta Piri Rais yang kemungkinan timbul karena perbedaan sistem proyeksi dari peta-peta sumbernya dan keterbatasan alat gambar pada zaman itu.
Yang menarik adalah bahwa sebagian analis tersebut mengatakan bahwa peta Piri Rais berhipotesis tentang eksistensi benua selatan (Antartika). Sepertinya Piri Rais percaya bahwa benua selatan ini harus ada untuk mengimbangi benua-benua yang secara massif hadir di belahan bumi utara. Hanya saja apakah benua itu merupakan kelanjutan dari benua Amerika sebelah selatan, atau terpisah, tentu saja saat itu belum bisa dipastikan. Antartika baru dilihat manusia pertama kali tahun 1820, dan keseluruhan garis pantainya baru dikenal setelah ditemukan pesawat udara abad-20.[]

Konferensi Rajab 1432 H : Kesadaran dan Komitmen Perjuangan


Alhamdulillahirabbil ‘alamin, tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Sebab , hanya berkat pertolongan-Nya, acara konferensi Rajab 1432 Hijriyah berlangsung dengan baik. Tentu masih ada kekurangan di sana-sini, tapi secara umum acara yang berlangsung di 29 kota di seluruh Indonesia ini bisa dikatakan sukses. Rangkaian marathon konferensi Rajab yang dimulai dari kota Banjarmasin ( 2/06/2011) hingga puncaknya di Jakarta (29/06/2011). Opini tentang kewajiban syariah dan Khilafah pun semakin menggema di seluruh nusantara mulai Aceh hingga Papua. Dukungan pun semakin menguat dari masyarakat, para intelektual, tokoh, dan ulama.

Tentu ada yang mempertanyakan, apa pentingnya konferensi Rajab ini bagi umat Islam. Apalagi dilakukan secara massal yang pasti menyedot energi dan dana yang tidak sedikit. Perlu kita garis bawahi, konferensi Rajab ini adalah sekedar pilihan uslub (teknis) dalam thoriqoh (metode) dakwah yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir. Adapun substansinya adalah bagaimana memperkuat kesadaran masyarakat tentang kewajiban menegakkan Islam (syariah dan Khilafah) dan memperkokoh komitmen umat untuk ikut terlibat dan berkorban memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah.

Dua hal ini - kesadaran dan komitmen - adalah perkara yang penting dalam perubahan masyarakat. Kesadaran akan membentuk opini umum yang akan menggiring dan menggerakkan masyarakat untuk menuntut perubahan dengan tegaknya Khilafah. Sementara komitmen untuk berpartisipasi dan berkorban akan menentukan keberhasilan dari perjuangan yang membutuhkan dukungan penuh dengan kerelaan berkorban pada jalan yang penuh tantangan dan ujian.

Sejak awal materi-materi dari Konferensi Rajab 1432 H memang ditujukan ke arah sana. Materi pertama- Indonesia dalam cengkraman kapitalisme global - memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya Indonesia masih dijajah dengan berbagai bentuk dan cara. Diharapkan muncul pemahaman bahwa pangkal dari segala persoalan di Indonesia dan dunia Islam adalah penjajahan kapitalisme global. Tidak berhenti sampai disana, dijelaskan pula solusi yang shohih yaitu penerapan syariah Islam secara menyeluruh . Dan hal ini mutlak membutuhkan keberadaan Khilafah sebagai institusi politiknya.

Pada pemaparan yang ketiga, kita memberikan gambaran yang lebih detil, bagaimana penerapan syariah Islam di bawah naungan Khilafah akan mampu menciptakan kejahteraan di tengah-tengah masyarakat. Bukan sekedar kesejahteraan material berupa jaminan terhadap terpenuhinya kebutuhan primer tiap individu rakyat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan gratis danpendidikan gratis. Tapi juga terlindunginya kesucian agamanya, keselamatan dirinya, terlindungi akalnya, dan kehormatan dirinya.

Untuk itu secara detil dipaparkan kebijakan politik negara dalam ekonomi (jaminan pemenuhan pokok tiap individu masyarakat oleh negara , kebijakan pasar , mata uang, distribusi, industri, sumber daya alam, perdagangan , pengelolaan pendapatan dan pengeluaran negara dll). Termasuk kebijakan pendidikan dan kesehatan gratis. Diharapkan muncul pemahaman bahwa Islam memiliki solusi yang praktis dan memang mampu menyelesaikan persoalan manusia. Secara historis juga digambarkan bahwa syariah Islam memang benar-benar pernah diterapkan dan mampu mensejahterakan selama lebih kurang 13 abad . Hal ini untuk membantah tudingan bahwa syariat Islam hanya sekedar selogan kosong dan utopia.

Materi yang keempat adalah gambaran tentang negara adi daya Khilafah masa depan. Secara potensi Allah SWT telah mempersiapkan umat Islam menjadi umat yang terbaik (khoir ummah) , menjadi negara terdepan dan adi daya dunia. Kita sebenarnya telah memiliki semua syarat untuk menjadi negara adi daya. Mulai dari ideologi (aqidah) yang shohih, syariat Islam yang menyeluruh dan solutif, kekuatan militer yang besar dengan 5,59 juta tentara aktif , ekonomi yang kaya mengusai lebih dari 70 % cadangan minyak dunia , demografis dengan populasi 1,5 milyar penduduk . Hingga geo-politik strategis dengan kontrol penuh atas rute-rute laut yang paling penting di dunia dari Selat Gibraltar, Mediterania (Laut Tengah), Bosporus, Terusan Suez, Samudera India hingga Selat Malaka. Yang kita butuhkan hanyalah satu : yakni adanya daulah Khilafah Islam yang menyatukan potensi itu hingga menjadi kekuatan riil negara adi daya.

Berbeda dengan Barat (ideologi Kapitalisme), kesejahtraan yang akan diciptakan oleh Ideologi Islam adalah kesejahteraan untuk seluruh umat manusia, bukan dengan cara mengeksploitasi dan merampok wilayah lain. Dan yang terpenting kesejahteraan itu penuh dengan nilai ruhiyah karena diperoleh dengan cara yang benar dan ditujukan untuk mendapat ridho Allah SWT.

Kesadaran-kesadaran di atas semakin diperkokoh dengan janji Allah SWT akan kemenangan Islam dan kembalinya Daulah Khilafah pada materi kelima. Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaf fi al-ardh. Istikhlaf fi al-ardh bermakna menjadi penguasa atau pengatur urusan manusia (khalifah atau imam) di seluruh dunia. Istikhlaf tidak memiliki makna lain selain penganugerahan kekuasaan dan tugas pengaturan urusan manusia di seluruh dunia. Janji yang agung ini difirmankan Allah SWT dalam al-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW. Kalau Allah dan Rosul-Nya sudah menjanjikan atas dasar apalagi kita meragukan kemenangan ini ?

Materi terakhir berupa Seruah Hangat dari Hizbut Tahrir Indonesia intinya mengajak umat Islam untuk berkomitmen memperjuangkan syariah dan Khilafah ini. Bukan hanya sadar dalam pengertian sekedar tahu, tapi juga terlibat langsung dalam perjuangan ini dengan segala pengorbanannya. Sebab, kewajiban penegakan syariah Islam dan Khilafah adalah masalah kewajiban syari’i yang merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim. Ketiadaan Khilafah telah membuat banyak hukum Allah SWT yang terlantarkan. Ketiadaan Khilafah juga membuat umat Islam dalam keadaan berdosa- matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah- karena tidak memenuhi kewajiban bai’at kepada Kholifah. Karena itu, saat sekarang khilafah belum ada, siapapun yang ingin lepas dari dosa besar ini harus terlibat dalam perjuangan penegakan syariah dan Khilafah.

Seruan Hangat ini juga menjelaskan bagaimana metode Hizbut Tahrir untuk mewujudkan kembali Khilafah yakni dengan cara mengikuti thoriqoh (metode ) Rosulullah SAW. Yakni aktifitas politik berupa pembinaan (tatsqif) , membongkar makar penjajahan (kasyful khuththot), mengkoreksi penguasa (muhasabah lil hukkam), dan meminta pertolongan dari ahlul quwwah (tholabun nushroh). Semua ini dilakukan secara fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politik) dan la madiyah (tanpa kekerasaan).

Semua ini adalah perjuangan yang mulia yang memiliki pahala yang besar dari Allah SWT. Secara khusus HT menyerukan ahlul quwwah (para jenderal dan perwira militer ) untuk mendukung Hizbut Tahrir . Jadilah Anda semua kaum Anshar abad ke-15 Hijrah sebagaimana kaum Anshar pada zaman Rasulullah saw.! Tidakkah Anda semua rindu untuk mendapatkan kehormatan dan kemuliaan seperti yang diperoleh kaum Anshar yang mendukung Rosulullah SAW ? Sungguh, ‘Arasy ar-Rahman telah bergetar karena kematian pemimpin Anshar, Saad bin Muadz ra. Baginda Rasulullah saw. bersabda: ‘Arasy ar-Rahman bergetar karena kematian Saad bin Muadz (HR al-Bukhari dari Jabir ra).

Perjuangan tentu belum selesai dengan berakhirnya Konferensi Rajab. Untuk para aktifis, tidak ada lain, harus tetap sabar dan ikhlas serta sungguh-sungguh dalam berdakwah. Sekali lagi, dakwah adalah soal keikhlasan, kesetiaan dan kesabaran membangun proses dalam membentuk kekuatan jamaah dan kesadaran umat. Untuk umat, juga tidak ada lain kecuali harus secara sungguh-sungguh dan ikhlas mendukung dan berjuang bersama jamaah yang tegas hendak mewujudkan tegaknya syariah dan khilafah,yakni Hizbut Tahrir. Takbir (Farid Wadjdi)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...